Tuesday, November 20, 2012


upload rate speedy


Setelah mendapat promo upgrade kecepatan dari penyedia sambungan internet rumahan, saya memang mendapatkan kecepatan unduh yang "layak" untuk menjelajah, mengunduh konten ataupun menonton video daring.


Namun, permasalahannya bukan hanya soal download. Saya sering membutuhkan sambungan internet untuk mengunggah hasil pekerjaan berbentuk file yang jumlahnya kadang cukup besar karena terdapat elemen grafis di dalamnya baik lewat media FTP, versioning ataupun unggah lewat website.


Komunikasi lewat panggilan video juga sering terganggu karena kecepatan unggah internet yang kurang sebanding dengan kecepatan unduh. Kasusnya adalah saya kerap mendapati galat ketika Hangout menggunakan Google+. Saya menduga kecepatan unggah internet tidak seimbang dengan resolusi web cam yang saya gunakan.


Ah, berganti provider juga bukan solusi. Sejauh ini memang provider ini yang paling tidak "rewel" selain tidak ada lagi pilihan provider lain yang cukup baik dan terjangkau di kota saya.


Dilematis....

Monday, November 19, 2012

Sebagai pengguna Mac OS X "kemarin  sore" dan sebelumnya terbiasa dengan Windows 7, awam ini sudah secara default akan memanfaatkan XAMPP atau MAMP (untuk Mac) untuk menjadikan komputer sebagai server lokal dan untuk menangani database.

Pertimbangan saya untuk meninggalkan MAMP dan mencoba memasang komponen-komponen web server (Apache, PHP, MySQL) secara manual pada Mac Mini adalah:

  • MAMP seringkali rewel. Terkadang hanya Apache Servernya yang berwarna hijau, sedangkan MySQL tidak jalan. Jika sudah teratasi, maka ada lagi masalah lain, seperti penggantian password root yang harus mengganti script-script yang ada pada /bin MAMP. Tidak praktis.

  • Port default MAMP adalah :8888 dan ketika menggantinya ke port :80, memerlukan waktu lagi untuk mengkonfigurasi. Jika tidak, maka penulisan lokasi di browser menjadi sangat menyebalkan bagi saya karena harus mengetikkan :8888 di belakang localhost. Misal:localhost:8888/wordpress.

  • Tidak perlu lagi menyalakan control panel MAMP untuk memulai proses pengembangan website di komputer lokal.


Setelah saya tanya mbah Google tentang cara untuk membuat saya dapat meninggalkan MAMP, saya dipersilakan untuk mengunjungi blog milik Luke Jones tentang cara menjadikan Mac OS X sebagai server lokal.

Namun ada satu catatan tentang tutorial dari Luke Jones di atas. Langkah yang dituliskan untuk menginstall MySQL adalah dengan Homebrew. Nah saya sempat tertahan beberapa jam saat menginstall lalu mengkonfigurasikan MySQL via Homebrew karena tidak berjalan mulus di Mac saya.

Namun, karena mbah Google berbaik hati maka saya ditunjukan jalan untuk melakukan instalasi MySQL dengan cara "standar", yaitu dengan mengunduh paket MySQL yang sudah disediakan oleh MySQL-nya sendiri. Anda bisa melakukan step by step instalasinya dengan mengikuti tulisan dari blog Coolest Guy on The Planet.

Langkah dari kedua tutorial di atas berhasil berjalan baik di Mac Mini mid 2011 dan menggunakan Mac OS X 10.7.1.

Untuk mengganti PHPMyAdmin, saya menggunakan Sequel Pro yang banyak disarankan oleh para pengguna Mac dalam mengatur database.

Sunday, November 18, 2012

Printer Epson L210

Lagi-lagi masalah printer dan solusi terbaik untuk tinta dan catridge (printer inkjet sekarang rata-rata heat-nya jadi satu dengan catridge). Saya akhirnya membeli printer yang menawarkan tangki tinta yang dibuat dari pabrikan printer. Istilahnya built-in. Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, memodifikasi tangki tinta yang bukan bawaannya cukup merepotkan. Bocor, selang tinta tersumbat dan catridge yang kering karena penggunaan tinta yang tidak direkomendasikan oleh pabrikan pembuat printer.

Saya mengambil "paket komplit", yaitu printer yang memiliki fungsi print - scan - copy (PSC). Pilihan jatuh kepada Epson L210. Dengan harga sekitar 2 jutaan, saya berharap printer ini tidak akan rewel untuk masalah tinta dan heat-nya. Saya pernah ngambek pada printer dan tidak membeli penggantinya setelah rusak.hehe. Sebelum saya membeli Epson, saya sudah pernah memiliki 4 printer dengan merk Canon (bubble jet, pixma) dan Hewlett Packard (HP). Tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan atau akan fanatik pada satu jenama tapi karena merk printer yang baru saja saya beli sudah menawarkan lebih dulu akan tangki tinta terintegrasi maka saya memilihnya. Itu saja.

Tinta original untuk Epson seri ini dijual seharga 70 ribu per botol. Takarannya? 1 tangki penuh. Terlalu naif jika saya mengatakan takaran dalam lembar cetakan yang dapat dihasilkan per botol seperti pada brosur produk. Saya berniat untuk tetap memakai tinta original untuk menjaga warna yang dihasilkan.

Namun, ditengah sebuan inovasi printer, nyatanya tempat foto kopi masih eksis. Apalagi yang menyediakan jasa edit foto dan printing. :D

© foto: Andrean Saputro
Masalahnya bukan pada jam bangun, namun jam tidur.

Sempat mengalami masa dimana untuk memejamkan mata saja susah. Pikiran terbang kemana-mana dan semakin ingin tidur, semakin capek dibuatnya.

"Bangunlah sebelum ayam berkokok" atau "Jangan bangun siang nanti rejekinya dipatok ayam". Ini semua bukan kesalahan ayam. Ini benar adanya, dengan bagun pagi maka waktu yang didapat dalam sehari akan optimal.

Di masa transisi, saya menjalani 2 pekerjaan yang sama sekali berbeda, pagi-sore: pekerjaan administratif lalu sore-malam-pagi berkutat dengan syntax. Waktu tidur hanya 2-3 per hari, jam 6 pagi sudah harus bangun untuk menjalani aktivitas di hari yang bisa dibilang sebelumnya atau masih hari ini. Begitu seterusnya kira-kira 8 bulan.

Tidak optimal! ya, inilah yang saya dapatkan. Pada waktu otak sudah capek, bekerja di depan layar komputer sepertinya hanya buang-buang waktu karena sudah tidak dapat berkonsentrasi penuh. Yang ada hanya "galau pikiran". Antara melanjutkan koding atau tidur untuk harapan yang sepertinya hanya sebatas wacana dalam 8 bulan: Bangun dan mendapati badan segar.

Kopi. Tentang minuman yang disebut-sebut dapat menyegarkan mata dan pikiran saat ngantuk. Nyatanya tidak. Saya tidak menyalahkan kopi, tapi sebenarnya memang disaat badan dan pikiran sudah lelah tak ada satupun alat penolong selain tidur. Kopi kental malah kadang hanya dapat menyebabkan jantung berdebar dan rasa gelisah saat tubuh sudah rebah di kasur.

Untunglah 3 bulan terakhir ini saya sudah seperti manusia normal. Bangun masih tetap jam 6 pagi dan tidur diantara jam 11/12 malam. Upaya dalam "me-reset" jam biologis ini lumayan membutuhkan effort. Intinya tubuh dibuat exhausted dengan cara berolahraga. Saya melakukannya dengan bersepeda sore dari rumah - waduk Cengklik yang jaraknya 21 KM (pulang-pergi).

Setelah sembuh? Saya malah tidak bersepeda kembali. Mungkin akan memulainya kembali di minggu-minggu ini setelah bangun pagi. Dan kebetulan saya juga sudah melepaskan pekerjaan administratif dan full time kerja di rumah. Subtitusi mengepel lantai mungkin bisa dijadikan alternatif bentuk olahraga. :D

Thursday, November 15, 2012

Kesampaian juga untuk membeli pengganti kamera saku lawas, Nikon Coolpix L18, dengan Sony Cybershot DSC-W630. Harga beli saya katakan sama dengan ketika membeli Coolpix L18 3 tahun lalu, karena saya memang menyesuaikan dengan dana dan kebutuhan yang sudah memadahi dengan tipe kamera “point to shot”.

Oke, karena saya suka dengan fotografi jarak dekat atau khalayak ramai menyebutnya dengan istilah macro photography maka saya akan memperlihatkan hasil jepretan yang objeknya saya ambil dengan jarak lebih kurang 30cm.


— Blackberry Essex | Info Exif



— Daun kering dan rumput | Info Exif



— Strawberry Ice Sandwich | Info Exif


Saya cukup puas untuk hasil foto makro yang dihasilkan oleh kamera saku ini.

Karena saya tidak cukup paham dengan teknis kamera pun fotografi, maka saya hanya memberikan hasil foto saja tanpa mengulas kelebihan dan kekurangan kamera atau hasil foto yang dihasilkan.

Note: Jika gambar yang dihasilkan buruk itu mungkin kesalahan saya ;-)

Sunday, November 4, 2012

Demam betulan. :D Ya, sejak Jum’at sore saya demam, menjadi betulan karena setelah saya minumi obat paten tidak kunjung sembuh. Maka sore ini, sesuai anjuran yang tertera pada kertas pembungkus obat “Jika sakit berlanjut hubungi dokter”, saya memeriksakan diri ke apotek 24 jam yang ada di dekat rumah, kenapa harus ke apotek 24 jam? Karena ini hari Minggu dan di apotek inilah selalu terdapat dokter jaga.


Seperti biasanya, ditanya keluhannya apa, periksa sana-sini serta “tensi” dan tidak ada sesuatu yang mengejutkan soal sakit saya. “Mas ini demam dan radang, saya beri antibiotik ya…”


Namun waktu dokter menuliskan resep, sambil bertanya kepada saya, “Mas sudah kerja atau masih kuliah”, saya jawab, “Sudah kerja, Dok”, dan pandangan dokter yang semula menatap resep berubah pandangan ke arah mata saya, “Mau penghasilan ekstra? Perluas”Netwok”“. “Maksudnya bagaimana, Dok?” lalu dokter itu meninggalkan kertas resep dan mengambil secarik kertas HVS dan mulai menerangkan kepada saya, “Jika kamu ikut MLM, teman kamu akan banyak dan kamu akan banyak memperoleh ilmu-ilmu tentang kesehatan” … “Jadi kamu tidak usah sering-sering ke dokter lagi untuk periksa”.


… sembari dokter terus menerangkan salah satu profil MLM saya menyimak dengan terus terbatuk-batuk (buatan) ….


Mimik saya yang menunjukan tidak peduli dengan promosi MLM tersebut membuat si dokter dengan sendirinya memberikan resep yang memang sudah saya lirik dari tadi.


Setelah saya keluar dari ruang dokter dan menebus resep di apotik, saya bertanya kepada pegawai apotek yang kebetulan teman saya, “Mas, pak blablabla dokter baru ya?”, dia menjawab “Iya mas, dari Surabaya. Pasti ditawarin produk ya mas? Belum tau mas Andre mungkin (sambil njegeges)”.


Ehm…. Apakah “menyelam sambil minum air” seperti praktek dokter itu tadi tidak melanggar kode etik kedokteran? Saya kurang paham, tapi rasanya sih itu tidak wajar. :D


Yang terakhir kenapa harus tau saya? ha ha ha.. sudahlah, tak penting.. ;)

Friday, November 2, 2012

Percayakah kepada modem USB yang bertenaga sinyal broadband? Saya tidak. Saya lebih percaya kepada kualitas internet lewat instalasi kabel telpon. Kenapa saya percaya? Ya karena selama saya memakainya memang tidak pernah mengalami gangguan yang cukup berarti. Berbeda dengan modem USB yang sering kali membuat mood di depan komputer berubah karena RTO atau karena lambatnya bukan main. Belum lagi jika perangkatnya panas, sering terputus dengan sendirinya. Ribet.


Kemarin sore, saya ditelpon CS provider penyedia sambungan internet dan menginformasikan bahwa masa promo paket yang tiap bulannya saya ambil sebesar Rp. 125.000 dengan kecepatan 384 kbps akan berakhir. Namun akan ada promo untuk mengganti promo sebelumnya. Yaitu dengan menaikan kecepatan internet ke 512 kbps dengan membayar Rp. 195.000 per bulan. Jumlah biaya dalam promo terbaru itu adalah jumlah yang semestinya saya bayar ketika menggunakan internet berkecepatan 384 kbps. 


CS itu menanyakan kesediaan dan konfirmasi atas promo yang dia tawarkan. Saya lalu menanyakan soal term dari promo, terlebih durasi promo terbaru yang ditawarkan. Ternyata promo ini berlaku selamanya. Karena saya malas sekali untuk update dan meminta-minta “ada promo apa nih untuk saya atau bulan ini”, maka saya ambil saja. Toh sebelumnya saya juga sudah berpikir untuk upgrade kecepatan.


Janjinya sore nanti baru akan aktif, namun saya cek pagi ini ternyata sudah naik di angka 512 kbps lebih sedikit pada kecepatan unduh dan 30 kbps di kecepatan unggah. Selamat pagi… Masih suka ngomel-ngomel kepada akun penyedia layanan internet lewat Twitter atau komentar bernada protes di post Facebook? :)


Copyright foto: Andrean Saputro - http://foto.andre.web.id/warna-warni-splitter

Thursday, November 1, 2012

Melakoni pekerjaan di lingkungan TI secara remote mutlak butuh komunikasi. Baik chatting, voice call dan jika mendesak adalah video call.

Saya beruntung diberi alat kerja berupa Mac Mini mid 2011 dari tempat kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Nah, karena versi mini, maka tidak ada web cam yang terintegrasi. Wong monitor saja beli sendiri :D. Mulailah saya hunting web cam yang compatible dengan Mac. Di Solo saya tidak menemukan merk dan tipe web cam yang saya cari, Logitech HD Web Cam C270. Saya memilih merk dan tipe tersebut dari video ini.

Terpaksa untuk membelinya di toko daring, Bhinneka.Com. Ya, toko tersebut sudah memiliki reputasi yang cukup baik. Dari CS-nya, saya mendapat informasi yang cukup tentang web cam yang akan dibeli.



Seharga Rp. 298.000 plus ongkir Rp. 14.096 dan menunggu satu hari, akhirnya web cam itu mendarat di meja kerja. Bongkar kardus yang penuh selotip bening, colok USB dan membuka aplikasi Photo Booth untuk mencoba … …. tadaaa!!! Lampu indikator web cam yang berwarna hijau menyala dan berfungsi dengan baik.



Di dalam paket pembelian terdapat web cam dengan interface USB, headset, buku manual dan CD installer. Namun headset dan tentunya buku manual serta CD tidak saya buka. Karena web cam sudah ada mic dan sudah bisa berjalan tanpa menginstall software apa-apa dari CD. (sesuai dengan video referensi) :D

Yak…. mari ber-Camfrog ria! *eh

Akhirnya kontrak Top Level Domain, setelah sebelumnya memakai .web.id yang sudah dipakai sejak tahun 2009. Untung saja “andreanisme” tidak populer, sehingga dengan mudah mendapatkannya. :D


Kenapa pakai Tumblr? Saya sudah malas ngeblog yang berat-berat (bukan berat tulisan … haha … tapi malas install Wordpress, pasang plugin dan sebagainya itu). Blog untuk hore-hore dan layanan Tumblr ini semakin lama semakin asyik saja (menurut saya).