Thursday, October 28, 2010

Seharian saya duduk dan menatap laptop pada hari Selasa, 26 Oktober 2010. Entah mengapa hari itu timeline di Twitter tak bisa ditinggal walau sejenak. Kabar tentang gunung Merapi yang akan menepati janjinya terdengar sayup-sayup suara lewat televisi yang ada di samping ruang tempat saya bercumbu dengan laptop bernyawa TweetDeck.

Letusan kali ini bisa saya beri nama Letusan Merapi 2.0. Perkembangan Merapi terus dikicaukan oleh akun @jalinmerapi. Mulai dari pengamatan sampai admin yang ngetwit dilemparin kerikil oleh Merapi. Laporan dari berbagai pos pengamatan gunung Merapi yang disampaikan lewat Radio Lintas Merapi juga disampaikan disini.

[caption id="attachment_1461" align="aligncenter" width="452" caption="Merapi 3 hari sebelum meletus | Foto: AnjasWijanarko.net"][/caption]


Kecepatan informasi yang tersaji inilah yang membuat berbeda dengan letusan tahun 2006, yang saat itu saya belum punya account Twitter, Friendsterpun saya belum mengenal. Informasi letusan Merapi sebelum era social media hanya bisa saya nikmati via berita televisi. Dan reporter mungkin tidak bisa menyajikan informasi secepat teks yang terus menumpuk di timeline.

Tak hanya dalam segi sosial media. Stasiun televisi yang menyajikan fitur livestreaming di webnya juga turut memudahkan saya memantau aktivitas gunung Merapi. Tidak usah berpindah posisi, karena saya sudah pewe di depan laptop, tinggal geser tab dan informasi secara visual-pun sudah tersaji.

Perkembangan social media juga ampuh untuk menghimpun rasa simpati banyak orang. Untuk pengiriman bantuan, baik berbentuk uang, relawan, ataupun logistik bisa dihimpun dengan hanya 140 kata. Di sana juga bisa menginformasikan apa jenis bantuan yang sangat diperlukan dalam waktu itu (real time). Misalnya, masker penutup hidung (karena waktu itu hujan abu) yang kurang atau selimut yang tidak tersedia banyak untuk para pengungsi. Jadi, jika ada orang yang ingin mengirim bantuan bisa saja menyisipkan masker dan selimut sebelum dikirim ke lokasi pengungsian.

Di atas, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kecepatan informasi juga berdampak pada ketepatan reaksi.

Untuk penggalangan relawan juga demikian. Relawan yang akan berangkat bisa membuat pendaftaran secara online. Tentunya yang ingin mengkoordinir juga menyediakan form yang diletakan pada halaman di internet. Selain bisa mendata terlebih dahulu, koordinator relawan juga tak perlu pusing-pusing untuk memberitahukan apa-apa saja yang mungkin akan diperlukan sewaktu relawan akan membantu korban-korban Merapi. Cukup tuliskan saja pada halaman informasi pada form pendaftaran online.

Kemajuan internet dan web 2.0 nya sangat berdampak baik dalam penanganan bencana saat ini. Untuk perbandingan, saya sendiri blind dengan keadaan di Mentawai. Karena hanya menyimak berita lewat TV, kondisi yang paling update susah sekali di dapat. Mungkin di sana akses internet masih sulit, dan jika melihat posisi Mentawai yang memang terpisah dari pulau Sumatra bisa dijadikan sebabnya. Padahal, Tsunami di Mentawai menelan lebih dari 200 jiwa dan sangat besar jika dibandingkan dengan korban Merapi yang merenggut 30-an korban jiwa.

Yah, ternyata memang kemajuan teknologi internet ini banyak gunanya. Produk yang paling mempunyai dampak mungkin dapat saya berikan pada produk social media. Letusan 2.0 juga bisa menjadi project nyata dimana powerfull-nya teknologi ini.

Andrean Saputro, resolusi 1024 x 768 melaporkan. :D

(Foto: Anjas Wijanarko)

Sunday, October 17, 2010

Oleh: Agus Siswoyo
Photobucket Secara naluri manusia cenderung suka membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Suka atau tidak suka begitulah adanya. Lebih ekstrim lagi, aneka ragam pembeda tersebut bisa dijadikan patokan dalam klasifikasi status sosial. Misalnya didasarkan pada kekayaan, jabatan, pendidikan, tingkat kesalehan dalam beragama maupun sejumlah parameter lainnya.

Bagaimana dengan pergaulan di internet? Apakah mungkin hal ini berlaku, mengingat dunia maya adalah media virtual yang terkoneksi lewat internet dan kita tidak tahu jatidiri sosok di seberang sana?

Sebenarnya praktek kelas sosial dalam pergaulan internet adalah hasil modifikasi dari dunia maya. Boleh jadi orang nggak kenal Anda face by face. Orang tidak tahu kalau Anda memiliki tahi lalat di pantat, gigi gingsul, tompel di pipi, bisul di balik rambut lebat dan lain-lain. Termasuk status Anda jomblo menahun ataupun janda beranak tiga.