Sunday, April 28, 2013

Saya merasa lebih mantab membaca buku cetak, bukan buku elektronik (pdf, epub, dll). Begitu pula dengan menulis atau menggambar, saya lebih menikmati gestur dan suara gesekan pensil dan kertas.


Hanya merasa lebih mantab  dan menikmatinya saja. Bukan berarti tidak bisa sama sekali untuk membaca dan menulis, pun menggambar dengan teknologi terkini. Dihadapkan dengan teknologi yang makin canggih, lama-lama manusia akan beradaptasi dan lambat laun akan meninggalkan "cara lama".


Saya sebenarnya masih menjaga cara lama. Dengan membaca koran misalnya. Padahal saya hampir tiap hari terkoneksi dengan internet dan bisa dengan instant mendapatkan bacaan dari portal berita daring.


Sewaktu masih di Solo, saya berlangganan harian Kompas namun karena Kompas juga memiliki portal berita daring yang isinya sudah mencakup berita nasional dan internasional, saya beralih ke harian berita lokal. Kenapa tidak dihentikan saja? Ya karena menikmati bau kertas koran dan kadang tangan sedikit ternoda tinta koran itu menghadirkan sensasi tersendiri. Termasuk membaca teks secara konvensional. :D


sketch book


Kemarin saya membeli sketchbook dan beberapa alat tulis (lagi). Yang saya punya sebelumnya sengaja saya tinggal di kota asal. Untung saya tinggal, kalau tidak nasibnya akan sama dengan bolpoin kesayangan saya yang hilang di sini. Buku berisi kertas putih polos ini biasanya cukup untuk menjadi media pengusir kejenuhan. Mencorat-coreti kertas bagi saya bisa menghadirkan keasyikan. Ah, iya, ketika SD buku tulis saya sering beralih fungsi menjadi buku gambar. :p


Sampai detik ini, saya masih menikmati beberapa "cara lama" dan masih mencari kenyamanan dan kenikmatannya. Entah sampai kapan. Tapi yang saya tahu, mesin ketik masih banyak dijual, printer dot matrix masih diproduksi, pelukis masih bertahan dengan karya-karyanya. Mungkin beberapa alat ini masih digunakan dan tak tergeser karena fungsi vitalnya.

Tuesday, April 23, 2013

nonton_bola streaming TV Indonesia


Tidak adanya televisi memaksa saya menggunakan ponsel untuk menikmati siaran langsung Liga Champions lewat ponsel. Pagi ini disajikan dua tim sama kuat, Bayern Munich vs. Barcelona. Sayang untuk dilewatkan.


Saya menggunakan aplikasi Android Indonesia TV Live yang  diunduh dari Google Play. Kebetulan, kuota paket data untuk ponsel masih tersisa banyak dan dalam minggu ini masa aktifnya akan berakhir. Streaming siaran langsung dapat memaksimalkan jumlah penggunaan.


Tayangan yang saya dapat cukup baik. Meskipun beberapa kali mengalami sendatan, namun masih bisa ditolerir. (dengan catatan, sinyal data yang saya dapat adalah HSDPA).


Saat tulisan ini dibuat, kedudukan 2-0 untuk keunggulan Arjen Robben dan kawan-kawan.

Monday, April 22, 2013

Fyuh.. Baru saja mengobok-obok list History pada 2 peramban, Chrome dan Firefox di dua OS, Windows dan Ubuntu untuk mencari jejak website yang pernah diakses. Saya sedang kebingungan untuk membuka website yang berisi kumpulan plugin jQuery. Naasnya saya lupa untuk melakukan bookmark serta lupa sama sekali nama websitenya, pun dengan tagline-nya. Beberapa kali melakukan Google dengan beberapa kata kunci juga nihil.

 

Saya mencari alamat website ini sejak Jumat lalu. Namun tanpa dinyana, tiba-tiba alamat web muncul di memori otak saya. Langsung saya ketikkan, unheap.com! Akhirnya ketemu! Saya lalu melihat tagline-nya. Disitu tertulis "A tidy repository of jQuery plugins". Padahal saat mencari di History browser, saya sebenarnya sudah mencoba untuk memberi batasan pencarian dengan kata "jQuery" dan "plugins". Namun entah kenapa tak juga menemukannya. :(

"Karena ctrl + D adalah menolak lupa."

Sunday, April 21, 2013

Sabtu sore kemarin, saya dan teman 1 apartemen mencari tongseng kambing yang ada di dekat pertigaan Kalibata - Jalan Raya Pasar Minggu. Lokasinya tidak jauh dari Kalibata City.

Rencana awal adalah naik angkot. Namun matahari sore saat itu memompa semangat untuk berjalan kaki.

Sambil berjalan, seperti biasa saya mencoba menangkap gambar dengan kamera ponsel.

image

image

image

Sayang sekali tongseng yang saya cari tutup. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari makan di spot makanan di depan TMP Kalibata yang tadi sudah dilewati.

Semangkok es buah segar menjadi penutup jalan sore. Segar...

image

Friday, April 19, 2013

dontstarve game
“an intrepid Gentleman Scientist who has been trapped by a demon and transported to a mysterious wilderness world”

Kali ini tentang game. Saya sebenarnya bukan maniak game, hanya beberapa game yang saya mainkan secara rutin, itupun jika mood dan ada kesempatan bermain. Counter Strike, Ghost Recon, Empire Earth, Red Alert dan Zoo Tycoon :D adalah mainan saya ketika masih memiliki komputer bermonitor tabung. Era online game, saya hanya memainkan Gunbound. Tidak pernah berniat mencicipi game yang harus memiliki voucher untuk memainkannya seperti Regnarok dan game-game serupa. Alasannya adalah saya gampang bosan dan tidak memiliki cukup uang untuk membeli voucher (ditambah biaya warung game online per jamnya) sedangkan game model ini tidak ada habisnya. Sumber uang terbatas. hehe

Game PC yang masih saya mainkan secara rutin sampai sekarang hanya Pro Evolution Soccer.

Nah, kemarin, teman sekantor, Nova, tampak khusyuk beribadah memainkan game. Saya melirik monitor laptopnya dan ternyata dia tidak sedang melakukan kebaktian DotA. Karena penasaran, saya menanyakan game apa yang sedang dimainkan. Dijawabnya dengan Don't Starve. Dia mendeskripsikan secara singkat kalau game ini tentang survival (kemampuan bertahan hidup).

Secara sekilas game ini soal strategi dan harus terus mencari barang untuk akhirnya jadi sesuatu untuk bertahan di hutan belantara. Karena saya memang suka game tentang strategi, maka saya langsung meminta installernya.

Giliran mencoba Don't Starve di laptop sendiri. Saya langsung tertarik. Mulai dari menebang kayu, mencari ranting pohon, rumput kering dan tentunya makanan. Makanan untuk mengisi perut, semak dan kayu untuk membuat api unggun di malam hari. Apa yang terjadi kalau di malam hari Wilson tidak menyalakan api unggun? Layar laptop gelap dan Wilson akan dimakan monster!

Begitu seterusnya, hari demi hari sambil terus mencoba membuat alat-alat yang membutuhkan bahan-bahan yang bisa ditemukan di hutan belantara dengan berjalan kaki. Jika lapar, Wilson bisa memakan bunga, strawberrry semak, wortel dan jamur. Nah jika Wilson salah memakan jamur, bukannya perut berisi tapi kepalanya akan pusing yang divisualisasikan dengan bergoyangnya layar laptop di game ini. hahaha. Ada beberapa warna jamur, berdasar dari pengalaman ketika memakan jamur yang malah membuat pusing. Maka selanjutnya saya bisa memilah jamur mana yang bisa di makan. Seperti layaknya menjalani survival di kehidupan nyata.

Bosan jadi vegetarian? Wilson bisa menangkap kelici dengan jebakan yang dibuat dari ranting dan semak yang sebelumnya sudah dicarinya serta memberi umpan dengan sebuah wortel.

Di hutan banyak hewan liar nan buas. Sama! Di hutan tempat Wilson juga ada, namun di game ini divisualisasikan dengan bentuk monster. Terdapat juga hewan yang berguna bagi sang ilmuwan, kunang-kunang misalnya. Kunang-kunang bisa menjadi penerang di tengah gelapnya malam karen Wilson bisa mengubahnya menjadi senter kepala.

Masih banyak lagi yang bisa diperbuat Wilson di hutan belantara ini. Karena dia adalah ilmuwan, maka dia bisa membangun seperti laboratorium untuk membuat alat-alat yang diperlukan untuk menghadapi buasnya kehidupan rimba yang akan terus bertambah hari demi hari. Seperti tagline game ini sendiri, Survive!, Collect!, Attack!

Wilson at Dont Starve game

Siapa sih Wilson si ilmuwan yang tersesat di belantara itu? Silakan mengenali game dan karakternya lewat websitenya. Game ini bisa berjalan di Windows, Mac, dan Ubuntu. Serta tersedia dalam versi aplikasi browser Chrome. Saat ini Don't Starve masih dalam pengembangan (versi beta) dan masih akan dilakukan penambahan interaksi dan level dalam permainannya.

Saya sudah mulai ketagihan. Welcome to the jungle. Mari berburu dan meramu!

Thursday, April 18, 2013

Memiliki gawai sudah lazim. Memiliki lebih dari satu juga lumrah. Setidaknya di Indonesia. Berbagai varian produk dan teknologi perangkat bergerak gencar menawarkan keunggulannya, setidaknya lewat iklan media massa baik eletronik atau cetak. Di harian Kompas, tak jarang saya menemui 1 blok iklan setengah halaman yang menawarkan produk komunikasi masa kini. Tawaran beberapa produk perbankan juga menggoda calon nasabahnya dengan memberikan handphone atau tablet secara cuma-cuma asal memenuhi syarat dan ketentuan.

Namanya saja perangkat komunikasi, ya fungsinya pasti tidak jauh-jauh selain untuk bertukar informasi, entah lewat suara atau teksEra kejayaan "sms-an" sudah lewat (walaupun saya sendiri mengakui bahwa short message service ini masih akan terus dipakai karena tidak bergantung dengan koneksi data, berjalan native asalkan ada jaringan dan pulsa). Sekarang sedang berjalan model pesan instan.

Setelah dipopulerkan oleh Blackberry dengan Blackberry Messengernya, sekarang menjamur berbagai produk beserta layanan pesan instan. Whatsapp, Line dan yang tengah gencar promo, KakaoTalk. Gunanya? Ya untuk chatting. Hanya saja dibubuhkan bumbu-bumbu penyedap percakapan seperti menawarkan model percakapan berjamaah (group chat), media transfer, emoticon yang menarik.

top free aplikasi google play


Baru saja saya melihat Google Play (galeri aplikasi resmi untuk platform Android) dan setelah masuk di tab Top Free, secara berurutan posisi nomor 1 s/d 4 diisi oleh aplikasi pesan instan.

Nah, apakah bisa disimpulkan kalau kita memang gemar chatting?

Kalau saya sendiri hanya menggunakan Blackberry Messenger dan Whatsapp. Belum punya niat untuk mencoba produk pesan instan lainnya. Alasannya? Saya pilih yang paling esensial saja dan banyak teman yang pakai. hehehe

Tuesday, April 16, 2013

3 bulan sudah menetap di ibukota sebagai buruh. Kota yang identik dengan Monas, TMII dan teater Keong Emas. Setidaknya bagi saya. Tahun 1995, saya ingat betul pertama kalinya ke Jakarta. Perjalanan semalaman dengan menggunakan bus malam kelas "Super Top" dari PO. Raya selalu menyenangkan bagi bocah yang baru saja lulus Taman Kanak-Kanak. Tissue basah berlabel nama bus, minuman bersoda dan duduk di samping jedela bus selalu menjadi ekspektasi tersendiri ketika kakek saya mengajak saya membeli tiket bus kurang lebih 2 minggu sebelum perjalanan.


Saya selalu menikmati suasana di dalam bus yang sepi setelah berhenti santap malam di daerah Weleri. Seperti biasanya, setelah perut terisi para penumpang lainnya termasuk kakek saya terlelap dalam sisa perjalanan. Sambil melihat papas-salip antar armada pengguna jalan, saya juga menikmati lampu jalan dan kobaran api dari kilang minyak yang sesekali terilhat di jalur pantura dari jendela. Inilah alasan kenapa memilih tempat duduk di dekat jendela. Ya, dan saya selalu terjaga menikmatinya.


Sesampainya di ibukota, saya dipuaskan dengan berbagai wahana yang ditawarkan oleh tempat dimana saya mengidentikan Jakarta di awal. Ah iya, saya lupa menuliskan satu tempat, Dunia Fantasi. Tangan saya yang kecil ini selalu menggenggam erat beberapa karcis masuk wahana sesuai paket yang diambil di pintu loket.


Kakek saya yang sudah memiliki status "seumur hidup" di KTP-nya memiliki keuntungan potongan setengah harga untuk pembelian tiket. Sebagai cucu kesayangan, saya juga terkena imbasnya. Yaitu bisa masuk di semua wahana dengan paket komplit!


Ya, awalnya saya menikmati Jakarta adalah sebagai tempat menghabiskan liburan.


Waktu sudah berlalu, jauh meninggalkan tahun 1995 dan saya tidak lagi bersekolah. Sebagai mana umumnya kodrat manusia, lahir, sekolah, bekerja dan mati, saya menginjakkan kaki di fase bekerja.


Saya mengikuti arus dari apa yang dikatakan orang banyak diluar sana yang mengatakan bahwa kerja di ibukota menjanjikan pengalaman serta tidak munafik, materi yang didapat. Karena sistem hidup memang bersandar pada materi. Tidak usah kau mendebat ini kawan!


"Jakarta itu kejam, bung!" Ini benar! Bangsatnya lingkungan, jalanan dan persaingan adalah aksen yang paling ketara di daerah kekuasaan Jokowi-Ahok ini. Bayangpun, ketika kamu membuka jendela pada pagi hari di kampung, kamu akan disuguhkan dengan pemandangan hijau yang menyejukkan mata dan hati. Di sini, kamu akan disuguhi dengan kepenatan yang disuguhkan dari dengungan knalpot dan kepulan asap serta polusi suara yang klakson disetiap lampu merah. Responsif sekali orang-orang dijalanan ibukota, lampu hijau baru saja menyala satu detik, klakson-pun sudah meraung supaya barisan depan segera melaju! Yen ora sabar, maburo, Cuk! (Kalau tidak sabar, terbanglah!).


Pemandangan di halte bis juga menarik, ada yang berleha-leha menanti bus atau angkot menghampiri. Ada juga yang sudah kerepotan dengan berbagai gawai sambil nyerocos di ponsel untuk memberikan report pekerjaan. Ingat, halte itu "belum" kantor.


Menikmati matahari pagi untuk merangsang tubuh menghasilkan vitamin D untuk kesehatan tulang itu salah kaprah kalau di ibukota. Matahari pagi hanyalah penguat istilah "bekerja memeras keringat". Benar, hanya keringat yang dihasilkan. Diperparah lagi dengan suhu yang dihasilkan dari kendaraan bermotor yang terlihat mesra berdempet-dempet di ruas jalan.


Namun saya menikmatinya sejauh ini. Adrenaline yang dihasilkan kurang lebih sama ketika menaiki roller coaster di Dufan.


Fase bekerja ini akan tercatat di histori perjalanan. Akan selalu terkenang. Apalagi keputusan saya untuk menginjakan kaki di Jakarta saya ambil 2 minggu setelah kakek saya meninggal. Dan kakek saya meninggal tepat 1 minggu setelah saya balik dari Jakarta. Sosok pengganti ayah dan orang yang pertama kali mengajak saya di kota tempat saya bekerja saat ini. Subjek laki-laki yang menguatkan saya dalam berbagai hal dan saya tersadar, dia meninggalkan saya di saat yang tepat, ketika sudah bisa "dilepas sendiri" dan mungkin menggantikan perannya di keluarga.


kalibatasore


Masa selalu meninggalkan jejak. Berbagai keputusan juga selalu mengiringinya. Termasuk banting setir dari pekerjaan saya sebelum di Jakarta yang kata orang sudah menempati posisi yang nyaman. Jalan masih panjang,  saya hanya meneruskan sisa perjalan dari santap malam hingga akhirnya mencapai tujuan sambil menikmati papas-salip orang dan kehidupan dan kemudian menghadapi senja kehidupan lalu mati, memenuhi kodrat.

Monday, April 15, 2013

News is bad for your health. It leads to fear and aggression, and hinders your creativity and ability to think deeply. The solution? Stop consuming it altogether.

source: the guardian