Memiliki gawai sudah lazim. Memiliki lebih dari satu juga lumrah. Setidaknya di Indonesia. Berbagai varian produk dan teknologi perangkat bergerak gencar menawarkan keunggulannya, setidaknya lewat iklan media massa baik eletronik atau cetak. Di harian Kompas, tak jarang saya menemui 1 blok iklan setengah halaman yang menawarkan produk komunikasi masa kini. Tawaran beberapa produk perbankan juga menggoda calon nasabahnya dengan memberikan handphone atau tablet secara cuma-cuma asal memenuhi syarat dan ketentuan.
Namanya saja perangkat komunikasi, ya fungsinya pasti tidak jauh-jauh selain untuk bertukar informasi, entah lewat suara atau teks. Era kejayaan "sms-an" sudah lewat (walaupun saya sendiri mengakui bahwa short message service ini masih akan terus dipakai karena tidak bergantung dengan koneksi data, berjalan native asalkan ada jaringan dan pulsa). Sekarang sedang berjalan model pesan instan.
Setelah dipopulerkan oleh Blackberry dengan Blackberry Messengernya, sekarang menjamur berbagai produk beserta layanan pesan instan. Whatsapp, Line dan yang tengah gencar promo, KakaoTalk. Gunanya? Ya untuk chatting. Hanya saja dibubuhkan bumbu-bumbu penyedap percakapan seperti menawarkan model percakapan berjamaah (group chat), media transfer, emoticon yang menarik.
Baru saja saya melihat Google Play (galeri aplikasi resmi untuk platform Android) dan setelah masuk di tab Top Free, secara berurutan posisi nomor 1 s/d 4 diisi oleh aplikasi pesan instan.
Nah, apakah bisa disimpulkan kalau kita memang gemar chatting?
Kalau saya sendiri hanya menggunakan Blackberry Messenger dan Whatsapp. Belum punya niat untuk mencoba produk pesan instan lainnya. Alasannya? Saya pilih yang paling esensial saja dan banyak teman yang pakai. hehehe
Namanya saja perangkat komunikasi, ya fungsinya pasti tidak jauh-jauh selain untuk bertukar informasi, entah lewat suara atau teks. Era kejayaan "sms-an" sudah lewat (walaupun saya sendiri mengakui bahwa short message service ini masih akan terus dipakai karena tidak bergantung dengan koneksi data, berjalan native asalkan ada jaringan dan pulsa). Sekarang sedang berjalan model pesan instan.
Setelah dipopulerkan oleh Blackberry dengan Blackberry Messengernya, sekarang menjamur berbagai produk beserta layanan pesan instan. Whatsapp, Line dan yang tengah gencar promo, KakaoTalk. Gunanya? Ya untuk chatting. Hanya saja dibubuhkan bumbu-bumbu penyedap percakapan seperti menawarkan model percakapan berjamaah (group chat), media transfer, emoticon yang menarik.
Baru saja saya melihat Google Play (galeri aplikasi resmi untuk platform Android) dan setelah masuk di tab Top Free, secara berurutan posisi nomor 1 s/d 4 diisi oleh aplikasi pesan instan.
Nah, apakah bisa disimpulkan kalau kita memang gemar chatting?
Kalau saya sendiri hanya menggunakan Blackberry Messenger dan Whatsapp. Belum punya niat untuk mencoba produk pesan instan lainnya. Alasannya? Saya pilih yang paling esensial saja dan banyak teman yang pakai. hehehe
0 comments:
Post a Comment