Tuesday, August 16, 2011

Saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, bendera kok divisualisasikan dengan tagar atau hashtag di Twitter. Mengerek bendera tanpa tali tanpa tiang? Saya juga tidak tahu, apakah nantinya saat mengerek bendera tagar itu akan ada nyanyian Indonesia Raya atau tidak.

Isi kepala memang tidak ada yang sama, saat kawan setimeline menyertakan tagar #17an saya tidak. Karena dibalik itu ternyata ada gerakan "rame-rame kerek bendera" yang sampai di alinea kedua ini masih membuat saya kebingungan: Tujuannya apa?

Di website "kerek bendera" itu tertulis,

"Sebuah inisiatif generasi muda Indonesia untuk kerek bendera Merah Putih rame-rame, pertama kalinya secara nasional. Caranya tambahkan tagar #17an di setiap tweet dan bisa via SMS pada tanggal 17 Agustus 2011 mulai dari jam 00:00 hingga jam 23.59".

Dimana benderanya? Dan jika menyinggung soal kata nasional dan tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa ini, apakah kata secara nasional itu sudah menghimpun seluruh rakyat Indonesia? Atau inikah awal kemerdekaan negara Indonesia bagian Twitter? Dimana Twitter sudah mampu menjaring percakapan untuk Indonesia.

Kalau tagar #17an sudah mencapai 1.781.945, dan menjadi trending topic secara worldwide apa dampaknya buat negara ini? Dilihat dari begitu mudahnya orang berpartisipasi dalam mengerek bendera ini, hanya ngetwit dan sms. Memang benar dalam tweet yang disampaikan bisa berisi ungkapan baik, harapan dan doa untuk bangsa ini, namun tweet yang terhimpun itu apakah sudah mempunyai saluran yang akhirnya diubah menjadi tindakan nyata? Ehm, ini gerakan tanpa wujud yang jelas, ya?

Setelah mencapai puncaknya, siapa yang akan khidmat berhormat terhadap bendera itu? Atau malah berpesta jika tagar #17an sudah mengungguli klasemen trending topic di Twitter. Yang lebih parah, ketika yang ditweetkan hanya bersifat angin lalu.

Saya kuatir, semua elemen bangsa ini akhirnya hanya digaungkan lewat Twitter. Mengukur kadar sukes atau tidaknya pencapaian bangsa ini hanya terukur lewat berbagai tools social media analytic. Saya juga skeptis terhadap siapapun yang menyertakan tagar #17an untuk benar-benar mau jika upacara bendera dilakukan dalam artian yang sebenarnya, posisi badan tegap dan hormat terhadap bendera yang terkerek selama lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh paduan suara upacara.

Sedih sekali rasanya jika bendera bangsa ini hanya divisualisasikan lewat tagar. Apalagi jika nantinya harapan bangsa ini yang disampaikan lewat Twitter dan SMS hanya sekedar isapan jempol belaka, tanpa wujud...

Apa yang telah saya lakukan untuk negara? Jawab jujur, belum ada.

Dirgahayu, bangsaku!




Mohon maaf bagi pembuat kegiatan yang saya singgung di atas. Saya cuma memberi sebuah catatan untuk apa yang saya rasakan, tak lebih. :)