Wednesday, September 25, 2013

Android Device Manager

Hari ini Android Device Manager menambahkan fitur Lock Screen dimana penambahan ini cukup penting. Ya, setidaknya untuk mengamankan data-data yang berada di dalam handphone kalau (jangan sampai sih...) hilang. Sebelum ada fitur lock screen, saya belum mengaktifkan Android Device Manager. Kenapa? Karena saya tidak mau menghapus (wipe) semua data sebelum saya menyerah dengan keadaan handphone saya benar-benar hilang dan tidak bisa ditemukan lagi.

Saya memang berharap ada fitur tambahan selain Erase data, yaitu lock screen dan mengirim pesan yang bisa dimunculkan ke layar handphone Android saya. Mungkin saja saya yang teledor, tidak hilang namun tertinggal di taksi atau beberapa kondisi lainnya yang sebenarnya handphone saya bisa saya dapatkan kembali karena jatuh di tangan orang baik. :)

So, kita tunggu saja apakah Android Device Manager ini akan menambahkan fitur mengirim pesan (screen message).

Monday, September 23, 2013

“Kamu ini web designer atau front-end developer?”, pertanyaan ini seringkali saya tujukan pada saya sendiri. Bingung? Iya, tapi tidak terlalu mengganggu. Tunggu dulu, seberapa pentingkah kalau saya menganalogikan job title sebagai sebuah definisi? Lalu apa saja yang harus saya kerjakan ketika menyandang atau melakukan pekerjaan sebagaimana job title yang diberikan oleh perusahaan (jika bekerja — “ikut orang”) atau pekerja lepas (freelance).

Hal ini memang membingungkan. Setidaknya untuk saya dan mungkin beberapa orang.

Sekedar bercerita, saya memulai pekerjaan di dunia pengembangan website sebagai web designer. Belum “ikut orang”, saya mengawalinya sebagai pekerja lepas. Saya memang tertarik untuk mengubah tampilan sesuai dengan kemauan saya sendiri. Tidak lain adalah mengubah tampilan blog saya sendiri. Saya menggunakan Wordpress self-hosted.

Lama berselang, saya mulai mendapat pekerjaan untuk membuat atau hanya memodifikasi tampilan web/blog milik orang lain. Tentunya dengan bayaran dan tenggang waktu pengerjaan.

Tunggu dulu, saya tadi menyebutkan kata “web designer” sebagai pekerjaan awal. Ya, karena pada saat itu saya tidak mengetahui kata “front-end developer”. Yang saya tahu pada waktu itu adalah web developer yang mengurusi bagian kode PHP/ASP.NET dan web designer yang berkutat dengan tampilan depan website serta akrab dengan HTML, CSS, Javascript, Photoshop (PSD to HTML).

Setahun berjalan ternyata saya lebih senang mengeksplorasi CSS 3 dan Javascript dengan framework jQuery daripada membuat mock-up tampilan website dengan Photoshop lalu mengubahnya menjadi mark-up HTML dan CSS. Mungkin hal ini dipengaruhi dengan tren web development pada saat ini dimana beberapa komponen seperti misalnya button yang dulunya hanya bisa dipercantik dengan gambar yang diolah dari Photoshop sekarang bisa dilakukan dengan CSS3, baik dengan teknik gradient, shadow atau malah dengan animasi yang dulunya dilakukan dengan flash.

Pun dengan proyek-proyek yang saya kerjakan. Saya beberapa kali menangani bagian antar muka website yang dipergunakan sebagai antar muka transaksional. Tentunya saya tidak perlu merias terlalu menor untuk tampilan dashboard. Saya hanya memastikan bahwa tata letak dan desain komponen form-nya nyaman untuk digunakan. Dialog dan interaksi di dalamnya juga tak kalah penting agar alur proses bisnis dari aplikasi yang saya kerjakan tidak terkesan bertele-tele atau menyusahkan pengguna (user).

Oke… Garis besarnya, saya lebih menikmati proses melakukan koding daripada berganti-ganti layer di Photoshop atau Ilustrator. Dan saya lebih suka membaca referensi tentang kode (HTML, CSS, jQuery, UI, UX) daripada mampir di blog yang mengupas tentang teknik grafis.

Meskipun demikian, saya tak lantas membuang pentingnya sentuhan grafis di website. Seminimalis apapun tampilan website, akan lebih terasa manis atau elegan jika ada coretan grafis di dalamnya (dengan catatan: jika memungkinkan untuk meletakkannya). Malah 3 bulan yang lalu saya juga terlibat dengan proses pembuatan website yang cukup banyak melibatkan elemen grafis di dalamnya. (bisa cek di Linked In saya - promo :p)

Karena saya memang lebih menyukai proses kodingnya dan dengan beberapa referensi tentang apa bedanya web designer dan front-end web developer lewat beberapa tulisan ini Job Titles in the Web Industry, What does a front-end web developer do? & Web designer, graphic designer or maybe frontend developer? maka saya lebih sreg dan PD untuk menjalankan pekerjaan sebagai front-end web developer daripada sebagai web designer.

Kenapa harus dengan alasan menikmati? Ya kalau tidak menikmati kenapa dijalani? Ahhh… kau ini… :P

Lalu penting ya job title itu? Saya jawab: iya! Meskipun pada prosesnya kadang saya juga tidak memperdulikan itu…hehe. Kalau bekerja dengan beberapa orang dan ada kemiripan skill maka pembagian tugas berdasarkan job title akan sangat membantu biar jelas siapa berperan apa.

Kalau kamu gimana?

Sunday, September 15, 2013

Saya percaya bahwa kenyamanan tempat kerja akan mempengaruhi kinerja dan hasil kerja. Setidaknya bagi saya sendiri. Saya bukan tipe orang yang bisa bekerja dimana saja. Mungkin karena postur tubuh yang tinggi, saya tidak pernah nyaman bekerja dengan posisi duduk bersila di karpet/tikar/kasur saat menggunakan laptop. Kaki yang terlipat dan postur tubuh yang mau tidak mau harus lebih membungkuk membuat saya capek, kram dan kesemutan. *halah* :p

Saat masih bekerja sebagai pekerja lepas, saya mempunyai tempat kerja yang menurut saya paling nyaman. Kenapa "paling"? Alasan utamanya adalah saya bekerja di rumah saya sendiri yang pastinya nyaman (makan, minum, tidur bisa sesuka hati). Nah, alasan yang lain adalah saya bekerja dengan PC. Meskipun punya laptop namun saya masih lebih menikmati bekerja dengan PC. Saya memiliki 2 monitor LCD merk LG dan benQ (ya elah, ga usah disebut kali, Ndre :|). Satu monitor saya gunakan sebagai ekstensi layar laptop (sebelumnya dipakai sebagai monitor PC Windows) yang satunya saya gunakan untuk Mac Mini.

workspace-blog

Untuk meja komputer saya memiliki satu meja yang cukup luas dan dulunya adalah meja belajar dan satu lagi model meja komputer susun serta beroda yang saya gunakan untuk meletakan Mac Mini dan monitor LCD plus 1 UPS dan stop kontak dibagian bawah. Ya, tentunya saya punya alasan saat memilih meja komputer yang beroda dan kenapa harus ada UPS-nya. Karena saya bekerja di rumah saya sendiri, maka saya punya kebebasan untuk memilih spot dimana saya mau bekerja. Geser sana geser sini sesuka hati. Dan rumah saya memiliki banyak colokan listrik! Entah kenapa bisa tersebar di hampir seluruh ruangan.. :O

Saya punya trik supaya tidak lagi membungkuk. Saya menyematkan buku telepon yang useless dan berat itu sebagai lambaran monitor saya. Ya... 5 cm lebih tinggi lah. Kalau kurang tinggi mungkin kamu bisa menggunakan buku Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno buat lambaran monitor kamu... hahahaha.

Terus gimana kondisi sekarang? Yah beginilah nasib seorang perantau. Saya harus bisa membiasakan diri untuk bisa bekerja diberbagai tempat. Memangku laptop di kasur, bekerja dengan gaya seperti tentara yang sedang tiarap, atau memaksakan laptop di meja kafe yang ukuran dan fungsinya memang sebagai tempat makanan yang dipesan.

Karena masih nomaden, maka saya menunda dulu keinginan untuk membeli meja komputer. Atau saya akan menyiasatinya dengan membeli meja portable seperti yang banyak digunakan di warung lesehan nasi pecel. :mrgreen: