Monday, September 23, 2013

“Kamu ini web designer atau front-end developer?”, pertanyaan ini seringkali saya tujukan pada saya sendiri. Bingung? Iya, tapi tidak terlalu mengganggu. Tunggu dulu, seberapa pentingkah kalau saya menganalogikan job title sebagai sebuah definisi? Lalu apa saja yang harus saya kerjakan ketika menyandang atau melakukan pekerjaan sebagaimana job title yang diberikan oleh perusahaan (jika bekerja — “ikut orang”) atau pekerja lepas (freelance).

Hal ini memang membingungkan. Setidaknya untuk saya dan mungkin beberapa orang.

Sekedar bercerita, saya memulai pekerjaan di dunia pengembangan website sebagai web designer. Belum “ikut orang”, saya mengawalinya sebagai pekerja lepas. Saya memang tertarik untuk mengubah tampilan sesuai dengan kemauan saya sendiri. Tidak lain adalah mengubah tampilan blog saya sendiri. Saya menggunakan Wordpress self-hosted.

Lama berselang, saya mulai mendapat pekerjaan untuk membuat atau hanya memodifikasi tampilan web/blog milik orang lain. Tentunya dengan bayaran dan tenggang waktu pengerjaan.

Tunggu dulu, saya tadi menyebutkan kata “web designer” sebagai pekerjaan awal. Ya, karena pada saat itu saya tidak mengetahui kata “front-end developer”. Yang saya tahu pada waktu itu adalah web developer yang mengurusi bagian kode PHP/ASP.NET dan web designer yang berkutat dengan tampilan depan website serta akrab dengan HTML, CSS, Javascript, Photoshop (PSD to HTML).

Setahun berjalan ternyata saya lebih senang mengeksplorasi CSS 3 dan Javascript dengan framework jQuery daripada membuat mock-up tampilan website dengan Photoshop lalu mengubahnya menjadi mark-up HTML dan CSS. Mungkin hal ini dipengaruhi dengan tren web development pada saat ini dimana beberapa komponen seperti misalnya button yang dulunya hanya bisa dipercantik dengan gambar yang diolah dari Photoshop sekarang bisa dilakukan dengan CSS3, baik dengan teknik gradient, shadow atau malah dengan animasi yang dulunya dilakukan dengan flash.

Pun dengan proyek-proyek yang saya kerjakan. Saya beberapa kali menangani bagian antar muka website yang dipergunakan sebagai antar muka transaksional. Tentunya saya tidak perlu merias terlalu menor untuk tampilan dashboard. Saya hanya memastikan bahwa tata letak dan desain komponen form-nya nyaman untuk digunakan. Dialog dan interaksi di dalamnya juga tak kalah penting agar alur proses bisnis dari aplikasi yang saya kerjakan tidak terkesan bertele-tele atau menyusahkan pengguna (user).

Oke… Garis besarnya, saya lebih menikmati proses melakukan koding daripada berganti-ganti layer di Photoshop atau Ilustrator. Dan saya lebih suka membaca referensi tentang kode (HTML, CSS, jQuery, UI, UX) daripada mampir di blog yang mengupas tentang teknik grafis.

Meskipun demikian, saya tak lantas membuang pentingnya sentuhan grafis di website. Seminimalis apapun tampilan website, akan lebih terasa manis atau elegan jika ada coretan grafis di dalamnya (dengan catatan: jika memungkinkan untuk meletakkannya). Malah 3 bulan yang lalu saya juga terlibat dengan proses pembuatan website yang cukup banyak melibatkan elemen grafis di dalamnya. (bisa cek di Linked In saya - promo :p)

Karena saya memang lebih menyukai proses kodingnya dan dengan beberapa referensi tentang apa bedanya web designer dan front-end web developer lewat beberapa tulisan ini Job Titles in the Web Industry, What does a front-end web developer do? & Web designer, graphic designer or maybe frontend developer? maka saya lebih sreg dan PD untuk menjalankan pekerjaan sebagai front-end web developer daripada sebagai web designer.

Kenapa harus dengan alasan menikmati? Ya kalau tidak menikmati kenapa dijalani? Ahhh… kau ini… :P

Lalu penting ya job title itu? Saya jawab: iya! Meskipun pada prosesnya kadang saya juga tidak memperdulikan itu…hehe. Kalau bekerja dengan beberapa orang dan ada kemiripan skill maka pembagian tugas berdasarkan job title akan sangat membantu biar jelas siapa berperan apa.

Kalau kamu gimana?

2 comments: