Selamat bulan Februari! Konon katanya ini bulan kasih sayang. Memang kebanyakan perempuan mengidentikan bulan ini dengan warna jambon (merah muda), namun sebagian pria terutama penyuka siaran sepak bola, bulan ini adalah Liga Champions Eropa!
Saya mengawali bulan ini di tempat kerja baru. Bidang pekerjaan tidak jauh-jauh dari teknologi tentunya, sama seperti pekerjaan sebelumnya.
Mencoba beradaptasi di kantor baru dengan mengitari ruangan dan berkenalan dengan para pekerja lainnya. Alhasil, mata tertuju di sudut ruangan yang terdapat sebuah kotak berwarna coklat dan terdapat penunjuk waktu serta disebelahnya terdapat kertas yang disusun secara vertikal. Jika Anda mengenal jenama "Amano" maka biasanya anda bisa menebak benda itu adalah mesin absensi.
Ini menarik, saya bekerja di bidang teknologi yang biasanya selalu memakai teknologi terbaru dalam sarana prasarananya namun dihadapkan dengan mesin absensi yang saya sendiri sudah menemuinya waktu duduk di bangku Sekolah Dasar.
Tapi saya malah menyukai mesin absensi jenis ini. Penggunaannya dengan memasukan kartu lalu kemudian meninggalkan noda lini waktu di kertas absensi terasa asyik. Terlebih suara yang ditimbulkan mesin cap tanggal dan waktu kehadiran ini terkesan tegas. "jeglek!"

Satu hal yang mengganjal, seperti mengulang-ngulang sebuah kesalahan yang sering saya alami dengan penulisan nama saya sendiri. Andrean Saputro, pakai "o" bukan pakai "a". Seringkali huruf "a" mengakhiri 2 suku kata. Namun kesalahan huruf terakhir ini tidak fatal tapi sering. Yang parah adalah, mereka kadang melakukan improvisasi tanpa ijin. Pernah tertulis Andrian, Andreas, Andrewan.
Nah, tapi tetap bersyukur, asal penggantian nama tidak menimbulkan anggapan kalau saya adalah seorang wanita melalui nama belakang, misalnya Andrean Saputri.
Saya akan lebih bersyukur kalau besok pagi saya tidak telat masuk kantor. Pagi tadi, hari pertama, saya telat 20 menit. :P
Saya mengawali bulan ini di tempat kerja baru. Bidang pekerjaan tidak jauh-jauh dari teknologi tentunya, sama seperti pekerjaan sebelumnya.
Mencoba beradaptasi di kantor baru dengan mengitari ruangan dan berkenalan dengan para pekerja lainnya. Alhasil, mata tertuju di sudut ruangan yang terdapat sebuah kotak berwarna coklat dan terdapat penunjuk waktu serta disebelahnya terdapat kertas yang disusun secara vertikal. Jika Anda mengenal jenama "Amano" maka biasanya anda bisa menebak benda itu adalah mesin absensi.
Hallloooo! Ini 2013, bro! Ga kenal teknologi absensi sidik jari?
Ini menarik, saya bekerja di bidang teknologi yang biasanya selalu memakai teknologi terbaru dalam sarana prasarananya namun dihadapkan dengan mesin absensi yang saya sendiri sudah menemuinya waktu duduk di bangku Sekolah Dasar.
Tapi saya malah menyukai mesin absensi jenis ini. Penggunaannya dengan memasukan kartu lalu kemudian meninggalkan noda lini waktu di kertas absensi terasa asyik. Terlebih suara yang ditimbulkan mesin cap tanggal dan waktu kehadiran ini terkesan tegas. "jeglek!"
Satu hal yang mengganjal, seperti mengulang-ngulang sebuah kesalahan yang sering saya alami dengan penulisan nama saya sendiri. Andrean Saputro, pakai "o" bukan pakai "a". Seringkali huruf "a" mengakhiri 2 suku kata. Namun kesalahan huruf terakhir ini tidak fatal tapi sering. Yang parah adalah, mereka kadang melakukan improvisasi tanpa ijin. Pernah tertulis Andrian, Andreas, Andrewan.
Nah, tapi tetap bersyukur, asal penggantian nama tidak menimbulkan anggapan kalau saya adalah seorang wanita melalui nama belakang, misalnya Andrean Saputri.
Saya akan lebih bersyukur kalau besok pagi saya tidak telat masuk kantor. Pagi tadi, hari pertama, saya telat 20 menit. :P
cocok pak nek dadi andrean saputri nanti langsu wae absen di margoyudan hahahahah :)
ReplyDelete