Sunday, May 27, 2012



Memang harus belajar merelakan. Mungkin jika nanti tak sesuai harapan, aku akan jadi "Soloist". Menjalani hidup seorang diri karena tidak mau gagal lagi dan fokus untuk hidupku sendiri.

"Kamu gila, ndre. Kenapa tak mencoba membuka hati lagi?"


Sudahlah pasti aku gila karena aku sudah merencanakan ini semua. Namun, aku bukan orang yang ingin mengorbankan orang lain. Dalam kasusku - ditulisan ini - adalah seorang pengganti. Aku tak mungkin menggandeng pacar tanpa mencintainya 100%! Karena aku sudah pasti sakit hati pula jika cintaku tak terbalas dengan sepenuh hati.

Aku telah mencobanya sebelum ini. Dan itu menyenangkan. Memberi perhatian namun hanya sebatas teman saja. Akupun dingin terhadap semua wanita yang coba mendekat. Aku sadar, aku ganteng dan punya pekerjaan, tanggapan dari mereka, para wanita, juga menganggap aku pria baik. Namun cukuplah mereka memuji. Aku tak ingin pujian berbalik jadi makian karena aku mempermainkan mereka.

Tentang Keturunan


Jika jadi aku menjadi Soloist, maka aku akan memiliki banyak anak. Tidak biologis mungkin, namun aku bisa beri perhatian ke panti asuhan. Lagipula aku punya rasa iba yang teramat terhadap anak-anak jalanan. Boleh bercerita, ketika SMA, aku bermain game online di daerah Keprabon, Solo, saat sedang membeli es teh di warung depan tempat game online, ada anak-anak sekitaran usia SD meminta dengan wajah kelaparan kepada penjual nasi bandeng sebungkus nasi tanpa lauk. Namun penjual nasi bergeming. Saya memandang mata anak itu, dan saya tahu betul dia memang kelaparan. Kupanggil dia duduk di samping saya lalu saya ambilkan nasi bandeng dan kupesankan minum serta kutawarkan beberapa lauk lainnya untuk diambilnya sendiri.

Waktu itu saya punya uang pecahan 50.000 di kantong, kubayar semua makananku dan apa yang dimakan anak itu. Total 20.000, sisanya kuberikan saja ke anak itu. Rasa iba saya terlalu besar, intuisi saya juga mengatakan kalau anak itu begitu karena keadaan. Bukan berandal!

Penjaja makanan dengan kumisnya yang tebal berkata, "Kenapa kamu kasih?", saya hanya diam dan tidak menjawabnya. Malas, dan yang terpenting saya sudah membayarnya lunas. Tak ada masalah lagi antara aku dengan penjual nasi.

Pun dengan tayangan film, ada 2 film yang tidak akan mungkin kutonton lagi, dan kebetulan lupa judulnya. Yang pertama tentang anak-anak pengawal gajah, dan yang kedua adalah film Indonesia yang menceritakan legenda tentang anak yang tidak diakui orang tuanya sendiri. Cukup sudah, hatiku terlalu tipis jika mau disayat oleh kisah keduanya.

Tentang Totalitas Cinta


Aku tidak pernah mengumbar apa-apa untuk mendapatkan cinta. Yang aku tahu tentang cinta adalah menuntun seseorang yang kucinta untuk lebih baik. Pun aku dengan tidak bilang-bilang hanya berusaha dan berusaha untuk mewujudkan cita-cita bersama. Baik dengan bekerja atau memperbaiki jika aku memang salah. Aku sombong dan egois terkadang juga terlihat arogan. Tapi jika aku salah aku tak segan meminta maaf dan memperbaiki segalanya. Aku pernah jatuh beberapa kali, kegagalan sekolah dan kenakalan di umurnya. Namun ketika aku tersadar, aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Sampai sekarang inipun, aku bertumbuh dengan beerbagai kesalahan. Tak tahu apakah yang membawaku sampai level ini. Aku hanya bisa ucap syukur.

Apa lagi?


Pastinya aku tahu ini memang berat, namun yang kutahu, aku tidak sedang ingin mengecewakan hati setiap wanita yang nantinya jatuh cinta padaku namun aku membalasnya dengan pikiranku sendiri. Dia!

So, what's your problem?

0 comments:

Post a Comment