Sunday, May 27, 2012



Siapakah yang kau kalahkan? Aku sebagai seorang pekerja penuh dengan libido kejar prestasi? Aku sebagai seorang yang pintar mengurai masalah? Aku sebagai pemimpin orang-orang dengan kemampuan logika dan algoritma? Atau aku yang selama ini hanya pria tanggung yang sebetulnya rapuh dalam menghadapi hatinya sendiri?

Aku yang gamang akhir-akhir ini adalah potret dengan kualitas super yang akan kupigura di lintasan waktuku sendiri. Potret diriku yang kehilangan. Obyeknyapun terpampang nyata, langkah kakiku gontai, mataku sendu seperti mengganja dan tarikan napas seakan tersendat seperti orang yang penuh ego dalam makan makanan tanpa serat lalu menyalahkan anusnya karena tak kunjung lega di bibir toilet.

Seperti kisah lainnya yang selalu terkandung nilai. Di titik ini pula kupijakan kaki di bawah pohon yang berbuah. Di titik ini pula tanganku akhirnya memetik buah itu dengan satu tangan lengkap dengan tarikan searah gaya gravitasi. Kumakan buah sekulitnya pula segetah-getahnya. Tanpa mengelak, aku memang lapar!
... bahwa aku belum pernah seperti ini sebelumnya, mengucap cinta lewat media virtual karena kesan lebay akan dialamatkan ramai-ramai oleh khalayak yang selama ini memandangku sebagai musafir ...

Aku, ya, aku yang selama ini dengan egoku sendiri mencoba mengarungi kehidupan ternyata kandas dihempaskan badai cinta dan rasa kehilangan. Sebelum kulanjutkan, perlu kau tahu, bahwa aku belum pernah seperti ini sebelumnya, mengucap cinta lewat media virtual karena kesan lebay akan dialamatkan ramai-ramai oleh khalayak yang selama ini memandangku sebagai musafir. Kuenyahkan saja tanggapan orang! Bagiku, ini waktuku untuk jujur kepada diriku sendiri.

Badai cinta itu kau kirim tepat di rongga dada ini. Meskipun pada awalnya ingin kulawan namun aku ternyata tak kuasa. Badai itu terlalu kencang dan bak bisa ular, begitu cepat ia menyerang semua syaraf perasaku! Lengkap dengan sayatan. Kau tahu dengan pasti, esok harinya dengan begitu sakitnya aku memohon untuk tak kau biarkan sendiri!

Baru aku sadar kau yang menguatkanku. Meskipun aku tetap melangkah dengan sombong dan tidak menyadari arti hadirmu sebelum badai itu datang.

Anehnya, aku dengan sadar memahami bahwa kau adalah salah satu orang yang tertancap tepat di balik batok kepala. Kau seperti luka ketika terhunus pedang. Kadang tidak perih pada awalnya. Namun ketika pedang itu tercabut, maka matilah aku. Bukan mati yang kira-kira, tapi mati yang akan menyakitkan sampai akhirnya kehabisan cairan merah pengisi nadi.

Menyakitkan memang, tapi ini semua menampar aku. Aku bangun dari tidur panjang. Usah kau salahkan, bahwa aku memang tidak merasakan cinta untuk waktu yang lama. Tapi ini bukan pembelaanku, aku lama tak mencinta namun aku mendamba. Itu kamu! Ya kamu yang selama ini aku tunggu, tiada lain tiada bukan.

Jangan kau pergi lagi. Kau sudah mengalahkanku yang memang rapuh. Apabila kau berpikir kalau kau hanya memberatkanku, kau salah. Sudah kubilang, kau adalah pedang, jika tercabut maka aku tak mampu lagi melangkah lagi dan aku takut kehilanganmu untuk kesekian kalinya. Aku sudah terbangun, namun belum belum beranjak. Dan mungkin tak akan bisa beranjak tanpamu, Renny (Ry), teman terbaik sejak aku mengenalmu dibalik seragam putih biru.

Kamu alasan untukku hidup. Sudah.

 

Andrean yang mencoba merangkai kata, tulisan penuh sentimen pertamaku di blog ini. :)

0 comments:

Post a Comment