Kian pelik. Ya, dunia blogging semakin pelik akhir-akhir ini, sejauh yang saya tangkap lewat Twitter. Kelompok Blogger A punya hajat, kelompok B menjadi penyinyir. Begitu pula sebaliknya dan untuk kelompok C, D dan seterusnya. Adu argumen, kasak-kusuk seputar kelompok sampai siapa dibalik layar menghiasi drama blogging di negeri ini.
Sejenak kembali ke masa-masa saat saya mulai nge-blog, tahun 2009. Dimana kerjaan saya hanya menulis, blogwalking, menulis dan blogwalking. Kondisi saat itu, saya masih belum ngeh dengan Twitter. Blogging adalah jaringan yang benar-benar berbagi tulisan tanpa mempedulikan dahulu siapa di balik dashboard blog tersebut. Dalam artian, saya mengenali blog A dan hanya tahu siapa nama pemiliknya. Namun soal “rasa”, saya harus membaca beberapa artikel di blog A tersebut dan mengikutinya secara berkala. Setelah beberapa bulan baru kelihatan, ternyata blog A yang pemilik-nya bernama AA karakternya seperti ini.. Ooo, dia cukup interest dengan hal-hal yang berhubungan dengan bisnis online (misalnya) dan memang tulisannya lugas. Mungkin menggambarkan keseharian dari narablog ini. Inikah yang disebut personal branding?
Lalu, perdebatan yang saya alami saat itu adalah perdebatan yang masih sangat berhubungan dengan blog dan blogosphere (istilah nge-trend saat itu). Mulai dari menggunakan blog hanya sebagai sarana menulis dan berbagi versus yang menggunakan blognya untuk menjalankan bisnis online sampai perdebatan masalah penyajian tulisan.
Bagi sebagian orang yang menggunakan blog untuk sarana berbagi, termasuk saya. Saya pernah tidak akur dengan pelaku bisnis online. Namun ketidakakuran itu tidak lantas saya kemukakan dengan frontal atau istilah jaman modern-nya TwitWar yang saya rasa-rasakan hanya sekedar "berkelahi di depan publik dengan atau tanpa #nomention". Saya menyampaikan ketidaksukaan saya terhadap bisnis online yang saat itu marak dengan teknik black hat SEO dan SCAM dengan menulis di blog. Ya, saya masih menggunakan media yang sama.
Dalam mengutarakan pendapat/argumen tentu tidak bisa asal-asalan, karena saya sering blogwalking dari blog yang topiknya serius dan blog yang jenaka, maka dengan sendirinya terbentuk etika pergaulan antar narablog dari proses ini. Saya tidak mau melukai perasaan narablog lain karena kebodohan atau karena emosi sesaat yang saya hadirkan lewat tulisan.
Tidak ada antipati pada saat saya tidak akur dengan pelaku dan keberadaan bisnis online saat itu, karena meyadari bahwa sebagai orang yang mengenal internet, saya harus membuka diri terhadap tren atau sesuatu yang baru. Namun, saya tetap berusaha untuk berpendapat.
Jika dilihat, saya justru menikmati masa-masa ini. Komentar yang masuk banyak (berarti terdapat banyak diskusi atau pendapat dari narablog lain), setiap bulan ada minimal 3-4 judul dan informasi yang saya dapatkan lewat blogwalking juga bisa saya gunakan sebagai informasi, melihat wajah dan karakter blog yang bersliweran dan masih banyak lagi.
Perdebatan yang ada bukan untuk saling menjatuhkan, hanya bersifat melontarkan argumen dan akhirnya menuntut para narablog untuk terbuka. Lalu, apakah saya pernah berpendapat dan malah direspon secara negatif? Pernah! Contohnya pada bulan yang Agustus yang lalu. Sekali lagi, saya selesaikan lewat kolom komentar dengan membalasnya satu per satu.
Namun, yang berkembang belakangan ini adalah narablog lebih sibuk mengurusi kelompok lain yang sama-sama mengatasnamakan dirinya BLOGGER. Termasuk dalam perdebatan blog versus media sosial atau ada lagi blogger versus influencer. Padahal BLOGGER sama BLOGGER saja tidak akur. :lol:
Pendapat pribadi saya, itu cuma masalah media dan waktu. Selebihnya, saya akan memilih sendiri media mana yang saya gunakan, tentunya dengan tujuan yang bisa saja berbeda-beda.
Eits, tunggu dulu, ada juga label "Bapak Blogger". Terus terang, saya baru mengetahuinya setelah aktif menggunakan Twitter. Tahun 2009-2010? Saya hanya blogger buta yang taunya hanya numpang eksis di dunia maya.
Lalu, ada lagi nih, blogger seleb, seleb blogger, blogger nyinyir, blogger berpesta, blogger ndeso, blogger kota, blogger kuis berhadiah, blogger reviewer, blogger oldposting, dan masih banyak lagi... Jika hanya berupa label untuk gurauan sih tak masalah, tapi jika dibuat serius dan akhirnya dikotak-kotakkan? Kan malah repot, to?
Daripada pusing, kalau saya, tetap akan terus posting saja (tanpa syarat atau ketentuan yang berlaku). Dan menjadi penyimak istilah baru dalam dunia perbloggeran Indonesia yang ternyata jauh lebih rumit daripada hanya mengunjungi dan berkomentar di blog teman blognya sendiri. Atau bahkan lebih rumit daripada menuliskan judul tulisan.
Soal sering update atau tidaknya? Kenapa jadi soal? Dan kenapa harus dibangga-banggakan kalau sudah rajin posting? Sudahlah kawan, jangan terlalu serius.. hehehe. Nge-blog itu sudah lama ada dan menurut saya akan terus ada. Bukan sesuatu yang istimewa untuk jaman sekarang. Twitter? Itu barang baru, sob! Dan satu dari sekian banyak pilihan untuk berbagi. Intinya, jangan berlebihan... :)
Saya sedang belajar ngeblog dari narablog yang tidak berkomunitas dan bahkan tidak punya Twitter yang masih ngeblog dari dulu sampai sekarang tanpa tenggat.. Intinya cuma berbagi, berbagi dan berbagi dan pembacanya bisa menikmati sambil meminum secangkir kopi. Salut!
Sejenak kembali ke masa-masa saat saya mulai nge-blog, tahun 2009. Dimana kerjaan saya hanya menulis, blogwalking, menulis dan blogwalking. Kondisi saat itu, saya masih belum ngeh dengan Twitter. Blogging adalah jaringan yang benar-benar berbagi tulisan tanpa mempedulikan dahulu siapa di balik dashboard blog tersebut. Dalam artian, saya mengenali blog A dan hanya tahu siapa nama pemiliknya. Namun soal “rasa”, saya harus membaca beberapa artikel di blog A tersebut dan mengikutinya secara berkala. Setelah beberapa bulan baru kelihatan, ternyata blog A yang pemilik-nya bernama AA karakternya seperti ini.. Ooo, dia cukup interest dengan hal-hal yang berhubungan dengan bisnis online (misalnya) dan memang tulisannya lugas. Mungkin menggambarkan keseharian dari narablog ini. Inikah yang disebut personal branding?
Meski blog andre.web.id masih membahas topik seputar gaya hidup anak muda, tapi pemilik blog bisa menyajikan dengan bahasan yang komplit dan tidak asal. Bahkan tidak ragu-ragu mencari referensi terbaik untuk topik yang sedang ditulis.
Agus Siswoyo - 8 Breaktrough Blogger for AgusSiswoyo.Com (18 April 2010)
Apalagi di era informasi ini. Dimana setiap orang boleh berkomentar sebebas-bebasnya. Mau berdebat riset tingkah laku blogger, ayo saja. Mau ngobrol panjang lebar tentang gangguan akibat situs jejaring sosial, monggo dibuka.
Saya tertarik menulis ulang artikel riset Andre tentang flexibilitas seorang blogger untuk memasuki komunitas yang bukan tempatnya. Apakah karena berbeda topik maka tidak bisa diterima pihak yang berseberangan.
Agus Siswoyo - Andrean Saputro: Bola Basket dan Kebebasan Blogger (14 Mei 2010)
Lalu, perdebatan yang saya alami saat itu adalah perdebatan yang masih sangat berhubungan dengan blog dan blogosphere (istilah nge-trend saat itu). Mulai dari menggunakan blog hanya sebagai sarana menulis dan berbagi versus yang menggunakan blognya untuk menjalankan bisnis online sampai perdebatan masalah penyajian tulisan.
Bagi sebagian orang yang menggunakan blog untuk sarana berbagi, termasuk saya. Saya pernah tidak akur dengan pelaku bisnis online. Namun ketidakakuran itu tidak lantas saya kemukakan dengan frontal atau istilah jaman modern-nya TwitWar yang saya rasa-rasakan hanya sekedar "berkelahi di depan publik dengan atau tanpa #nomention". Saya menyampaikan ketidaksukaan saya terhadap bisnis online yang saat itu marak dengan teknik black hat SEO dan SCAM dengan menulis di blog. Ya, saya masih menggunakan media yang sama.
Dalam mengutarakan pendapat/argumen tentu tidak bisa asal-asalan, karena saya sering blogwalking dari blog yang topiknya serius dan blog yang jenaka, maka dengan sendirinya terbentuk etika pergaulan antar narablog dari proses ini. Saya tidak mau melukai perasaan narablog lain karena kebodohan atau karena emosi sesaat yang saya hadirkan lewat tulisan.
Tidak ada antipati pada saat saya tidak akur dengan pelaku dan keberadaan bisnis online saat itu, karena meyadari bahwa sebagai orang yang mengenal internet, saya harus membuka diri terhadap tren atau sesuatu yang baru. Namun, saya tetap berusaha untuk berpendapat.
Saya memang tidak bekerja di bisnis online..! Tapi tunggu dulu, saya Tidak Anti atau tutup mata terhadap bisnis online dan atek-anteknya. Ini karena saya juga berlangganan sales letter yang disediakan oleh para pembisnis online. Meski menggunakan akun email yang lain.
-- Bisnis Online Aku Tidak Benci Padamu (11 Mei 2010)
Kalau ga mau kaya dari internet, ya jangan main2 di internet, jangan bikin blog dan jangan ikutan apa-apa di internet.. gitu aja kok repot?
-- Kalo ngga mau kaya dari internet, ya jangan main2 di internet! (25 Maret 2010)
Jika dilihat, saya justru menikmati masa-masa ini. Komentar yang masuk banyak (berarti terdapat banyak diskusi atau pendapat dari narablog lain), setiap bulan ada minimal 3-4 judul dan informasi yang saya dapatkan lewat blogwalking juga bisa saya gunakan sebagai informasi, melihat wajah dan karakter blog yang bersliweran dan masih banyak lagi.
Perdebatan yang ada bukan untuk saling menjatuhkan, hanya bersifat melontarkan argumen dan akhirnya menuntut para narablog untuk terbuka. Lalu, apakah saya pernah berpendapat dan malah direspon secara negatif? Pernah! Contohnya pada bulan yang Agustus yang lalu. Sekali lagi, saya selesaikan lewat kolom komentar dengan membalasnya satu per satu.
Namun, yang berkembang belakangan ini adalah narablog lebih sibuk mengurusi kelompok lain yang sama-sama mengatasnamakan dirinya BLOGGER. Termasuk dalam perdebatan blog versus media sosial atau ada lagi blogger versus influencer. Padahal BLOGGER sama BLOGGER saja tidak akur. :lol:
Pendapat pribadi saya, itu cuma masalah media dan waktu. Selebihnya, saya akan memilih sendiri media mana yang saya gunakan, tentunya dengan tujuan yang bisa saja berbeda-beda.
Eits, tunggu dulu, ada juga label "Bapak Blogger". Terus terang, saya baru mengetahuinya setelah aktif menggunakan Twitter. Tahun 2009-2010? Saya hanya blogger buta yang taunya hanya numpang eksis di dunia maya.
Lalu, ada lagi nih, blogger seleb, seleb blogger, blogger nyinyir, blogger berpesta, blogger ndeso, blogger kota, blogger kuis berhadiah, blogger reviewer, blogger oldposting, dan masih banyak lagi... Jika hanya berupa label untuk gurauan sih tak masalah, tapi jika dibuat serius dan akhirnya dikotak-kotakkan? Kan malah repot, to?
Daripada pusing, kalau saya, tetap akan terus posting saja (tanpa syarat atau ketentuan yang berlaku). Dan menjadi penyimak istilah baru dalam dunia perbloggeran Indonesia yang ternyata jauh lebih rumit daripada hanya mengunjungi dan berkomentar di blog teman blognya sendiri. Atau bahkan lebih rumit daripada menuliskan judul tulisan.
Soal sering update atau tidaknya? Kenapa jadi soal? Dan kenapa harus dibangga-banggakan kalau sudah rajin posting? Sudahlah kawan, jangan terlalu serius.. hehehe. Nge-blog itu sudah lama ada dan menurut saya akan terus ada. Bukan sesuatu yang istimewa untuk jaman sekarang. Twitter? Itu barang baru, sob! Dan satu dari sekian banyak pilihan untuk berbagi. Intinya, jangan berlebihan... :)
Saya sedang belajar ngeblog dari narablog yang tidak berkomunitas dan bahkan tidak punya Twitter yang masih ngeblog dari dulu sampai sekarang tanpa tenggat.. Intinya cuma berbagi, berbagi dan berbagi dan pembacanya bisa menikmati sambil meminum secangkir kopi. Salut!
lak yo apik to kui bro :-)
ReplyDeleteho o, apik banget....
ReplyDeleteMHC Last Post : http://mashendri.com/internet-membuat-saya-xlangkah-lebih-maju.html
Saya blogger tanpa komunitas tapi punya akun Twitter sih, monggo sinau bareng, Mase.. :)
ReplyDeletekegalauan yang sama denganku brader, tapi seperti tulisanku yang bahas quote Nukman, "banyak poros itu baik."
ReplyDeleteNah sekarang kan masih dua kubu nih, ikut gerakanku yuk, blogger tanpa komunitas, tanpa poros, tanpa blok-blokan. Hidup #bloggerNonBLOG! :))
naikkan blogger, turunkan bbm. .. salah yah..
ReplyDeletendre, aku moco tulisanmu sampek kabeh yo lagi iki.. hhahaha ternyata mereka lucu ya.
ReplyDelete#BloggerKokDiatur