Saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, bendera kok divisualisasikan dengan tagar atau hashtag di Twitter. Mengerek bendera tanpa tali tanpa tiang? Saya juga tidak tahu, apakah nantinya saat mengerek bendera tagar itu akan ada nyanyian Indonesia Raya atau tidak.
Isi kepala memang tidak ada yang sama, saat kawan setimeline menyertakan tagar #17an saya tidak. Karena dibalik itu ternyata ada gerakan "rame-rame kerek bendera" yang sampai di alinea kedua ini masih membuat saya kebingungan: Tujuannya apa?
Di website "kerek bendera" itu tertulis,
"Sebuah inisiatif generasi muda Indonesia untuk kerek bendera Merah Putih rame-rame, pertama kalinya secara nasional. Caranya tambahkan tagar #17an di setiap tweet dan bisa via SMS pada tanggal 17 Agustus 2011 mulai dari jam 00:00 hingga jam 23.59".
Dimana benderanya? Dan jika menyinggung soal kata nasional dan tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa ini, apakah kata secara nasional itu sudah menghimpun seluruh rakyat Indonesia? Atau inikah awal kemerdekaan negara Indonesia bagian Twitter? Dimana Twitter sudah mampu menjaring percakapan untuk Indonesia.
Kalau tagar #17an sudah mencapai 1.781.945, dan menjadi trending topic secara worldwide apa dampaknya buat negara ini? Dilihat dari begitu mudahnya orang berpartisipasi dalam mengerek bendera ini, hanya ngetwit dan sms. Memang benar dalam tweet yang disampaikan bisa berisi ungkapan baik, harapan dan doa untuk bangsa ini, namun tweet yang terhimpun itu apakah sudah mempunyai saluran yang akhirnya diubah menjadi tindakan nyata? Ehm, ini gerakan tanpa wujud yang jelas, ya?
Setelah mencapai puncaknya, siapa yang akan khidmat berhormat terhadap bendera itu? Atau malah berpesta jika tagar #17an sudah mengungguli klasemen trending topic di Twitter. Yang lebih parah, ketika yang ditweetkan hanya bersifat angin lalu.
Saya kuatir, semua elemen bangsa ini akhirnya hanya digaungkan lewat Twitter. Mengukur kadar sukes atau tidaknya pencapaian bangsa ini hanya terukur lewat berbagai tools social media analytic. Saya juga skeptis terhadap siapapun yang menyertakan tagar #17an untuk benar-benar mau jika upacara bendera dilakukan dalam artian yang sebenarnya, posisi badan tegap dan hormat terhadap bendera yang terkerek selama lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh paduan suara upacara.
Sedih sekali rasanya jika bendera bangsa ini hanya divisualisasikan lewat tagar. Apalagi jika nantinya harapan bangsa ini yang disampaikan lewat Twitter dan SMS hanya sekedar isapan jempol belaka, tanpa wujud...
Apa yang telah saya lakukan untuk negara? Jawab jujur, belum ada.
Dirgahayu, bangsaku!
Mohon maaf bagi pembuat kegiatan yang saya singgung di atas. Saya cuma memberi sebuah catatan untuk apa yang saya rasakan, tak lebih. :)
Isi kepala memang tidak ada yang sama, saat kawan setimeline menyertakan tagar #17an saya tidak. Karena dibalik itu ternyata ada gerakan "rame-rame kerek bendera" yang sampai di alinea kedua ini masih membuat saya kebingungan: Tujuannya apa?
Di website "kerek bendera" itu tertulis,
"Sebuah inisiatif generasi muda Indonesia untuk kerek bendera Merah Putih rame-rame, pertama kalinya secara nasional. Caranya tambahkan tagar #17an di setiap tweet dan bisa via SMS pada tanggal 17 Agustus 2011 mulai dari jam 00:00 hingga jam 23.59".
Dimana benderanya? Dan jika menyinggung soal kata nasional dan tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan bangsa ini, apakah kata secara nasional itu sudah menghimpun seluruh rakyat Indonesia? Atau inikah awal kemerdekaan negara Indonesia bagian Twitter? Dimana Twitter sudah mampu menjaring percakapan untuk Indonesia.
Kalau tagar #17an sudah mencapai 1.781.945, dan menjadi trending topic secara worldwide apa dampaknya buat negara ini? Dilihat dari begitu mudahnya orang berpartisipasi dalam mengerek bendera ini, hanya ngetwit dan sms. Memang benar dalam tweet yang disampaikan bisa berisi ungkapan baik, harapan dan doa untuk bangsa ini, namun tweet yang terhimpun itu apakah sudah mempunyai saluran yang akhirnya diubah menjadi tindakan nyata? Ehm, ini gerakan tanpa wujud yang jelas, ya?
Setelah mencapai puncaknya, siapa yang akan khidmat berhormat terhadap bendera itu? Atau malah berpesta jika tagar #17an sudah mengungguli klasemen trending topic di Twitter. Yang lebih parah, ketika yang ditweetkan hanya bersifat angin lalu.
Saya kuatir, semua elemen bangsa ini akhirnya hanya digaungkan lewat Twitter. Mengukur kadar sukes atau tidaknya pencapaian bangsa ini hanya terukur lewat berbagai tools social media analytic. Saya juga skeptis terhadap siapapun yang menyertakan tagar #17an untuk benar-benar mau jika upacara bendera dilakukan dalam artian yang sebenarnya, posisi badan tegap dan hormat terhadap bendera yang terkerek selama lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh paduan suara upacara.
Sedih sekali rasanya jika bendera bangsa ini hanya divisualisasikan lewat tagar. Apalagi jika nantinya harapan bangsa ini yang disampaikan lewat Twitter dan SMS hanya sekedar isapan jempol belaka, tanpa wujud...
Apa yang telah saya lakukan untuk negara? Jawab jujur, belum ada.
Dirgahayu, bangsaku!
Mohon maaf bagi pembuat kegiatan yang saya singgung di atas. Saya cuma memberi sebuah catatan untuk apa yang saya rasakan, tak lebih. :)
Gelisah yah ndre? :)
ReplyDeleteiya e, Mas. Semacam galau-galau gimana gituuu.. :D
ReplyDeleteweeh aku posting ngeneki ono sing protes lho, padahal postinganku tahun lalu.. dikomeni oleh blogger yg mengaku Pengamat #trendingtopic Indonesia :))
ReplyDeleteapik iki...renungan yang mendalem di saat bangsa twitter menyukai kepura-puraan...
ReplyDeleteSehabis publish artikel ini, saya malah disindir secara #nomention di Twitter. Saiki kabeh-kabeh ancen Twitter kok.. :-
ReplyDeleteTapi ya sudahlah, biarkan mereka para social media expert berekspresi. :D
maturnuwun, Dhe. :)
ReplyDeleteRefleksi kritis.......hehehe
ReplyDeleteAku sendiri sejak tahun kemarin mengajak orang membuat #KadoMerdeka dapatnya cuma hitungan jari.
Tagar #17an memang lebih masif, fleksibel dan bisa digunakan untuk ngetweet apapun.
Aku pribadi tetap mengapresiasi kerjaan teman-teman yang mengusung tagar #17an, dengan segala catatan yang tidak kuposting *nyengir
menurut saya emang harus dibaca yang kayak gini,
ReplyDeletemenyentil untuk berefleksi dan ga asal bunyi. :)
di RT @pandji tadi mas tulisannya...
terima kasih karena saling mengingatkan, dirgahayu NKRI :D
Setidaknya para pemilik akun twitter yg menggunakan tagar #17an adalah mereka2 yg mengapresiasikan apa yg ada di otak mereka, untuk merayakan 17 Agustus ini. sama seperti anda yg berpikir bahwa menggunakan tagar tersebut hanyalah "aksi semu". Namun yg ada di otak kami adalah menggunakan tagar untuk memperingati Hari Ulang Tahun INDONESIA,karena kami tidak bisa melakukan upacara,pengerekan bendera yang sesungguhny.
ReplyDeleteSemua bisa dilihat dari sisi positif dan negatif memang. Akan selalu seperti itu. :)
saya sangat senang dengan apresiasi teman2 yang mengkritisi gerakan #17an ini.. menurut saya sih itu sah-sah saja, mengapresiasi rasa cinta tanah air kan bisa dalam bentuk apa saja, yang penting positif.
ReplyDeleteNah, untuk kerek bendera ini bukan tanpa wujud lho.. di website nya itu adalah media untuk menjaring tagar #17an kemudian menampilkan, sedangkan "kerek bendera" ini dilaksanakan di FX sudirman dalam bentuk upacara nyata. Apakah masih dikatakan tanpa wujud?
yfrog.com/h328531525j
thank's
"netralis, bukan dari pihak mana pun"
:)
Kemarin juga pernah lihat aksi ini di websitenya, tapi karena aku jarang ngetweet jadi ya aku gak ikut mendalami apa maksud dan tujuannya serta bagaimana cara kerjanya.
ReplyDeletePerlu Anda ketahui, upacara bendera dan kerek bendera digital itu hanya simbolisasi. Jika Anda cermat membaca, apakah semua yang ngetwit itu melakukan harapan atau apa saja yang di twitkan untuk selanjutnya diamalkan? Atau hanya bisa di Twitter lalu do nothing di dunia nyata? Latah? :-)
ReplyDeleteWujud bukan hanya simbolisasi.. :-)
Thanks!
Silakan Anda membaca komentar saya menanggapi mas/bro/mbak netralis yang ada di bawah.. Hampir sama jawaban saya. :)
ReplyDeleteThanks! :-)
Bagus, Mas, #kadomerdeka nya..
ReplyDeleteBenar, saya juga menghargai para pembuat gerakan tagar itu. Namun, saya hanya memberi catatan. Di terima ya syukur, kalo tidak ya tak apa. Saya tidak menggunakan tagar tersebut dalam menyampaikan opini via Twitter dan mending saya tulis di blog. Hemat saya, cara ini lbh pantas.. :)
terima kasih telah menyampaikan pendapat Anda atas tulisan saya ini, Mas. Merdeka! :D
ReplyDeleteWah mas Andre sudah jadi seleb blog...kalo udah jadi seleb blog jangan lupakan kaum proletar seperti saya ya? dan jangan lupa juga reply mention di Twitter :P
ReplyDeleteUwis tak reply! Angger ngeyel ta kerek dewe lho.. :D
ReplyDeletesetiap hari dirgahayu indonesia, ada aja orang yg sinis. memang apa susahnya ngucapin selamat dirgahayu? tak lebih berat dari ngucapin hepi besdei ke teman. memang apa salahnya punya harapan? dari pada putus asa. ada yg ingin menyulut cinta tanah air di hari yg spesial ini pun dipersalahkan, lantas memang maunya seluruh orang indonesia memiliki kebencian dan kesinisan kepada bangsanya?
ReplyDeleteorang indonesia ini ratusan juta, klo ingin menyulut hati mereka tak bisa hanya dengan satu cara. jadi biarkan saja masing-masing orang punya caranya tersendiri bagaimana ingin menyulut.
ada sekelompok orang yg seolah-olah akan puas bukan kepalang, bila seluruh rakyat indonesia ini benci pada negaranya sendiri. ada sekelompok org yg seolah-olah belum bisa tidur pulas, jika semua rakyat indonesia ini belum benci dan memaki negaranya sendiri. klo ditanya sih niatnya pengen "menyadarkan bangsa indonesia bahwa ada sodara kita yg lain yg kurang beruntung, kita harus do action, kita harus peduli." tapi cara-cara yg dilakukan lebih mirip komporator yg menanamkan kebencian pada bangsa ini.
kita cinta indonesia, tentu semua mahfum akan hal itu. gue dulu ketika dilahirkan tidak meminta ke tuhan untuk dilahirkan di pulau jawa, untuk sodara-sodara yg tinggal di daerah terpencil, papua misalnya, gak semua orang bisa do action yg signifikan sebagai bentuk empati.
"saya ingin empati dgn sodara-sodara d papua, dengan tidak memakai kendaraan, pc, internet, bb, junk food, dll" masa iya gitu? elo sendiri di hari dirgahayu ini ada kah yg elo lakukan bisa lebih signifikan dari tweet #17an itu? ini pertanyaan standar, silakan juga klo mau ngasih jawaban standar.
sudah bosan mendengar orang nyinyir sinis dengan ngomong "apakah kita sudah merdeka, lalu apa yg pantas kita rayakan." duh, klasik, gak kreatif.
Siapa yg sinis?
ReplyDeleteSetelah ngetwit, apa yang anda lakukan? Stelah jadi TT apa yg terjadi terhadap Indonesia? :D
orang-orang dengan "bijak"-nya menuntut gerakan yg mewujud, yg signifikan, yg ada bentuknya, yg ada hasilnya. gue sebagai lelaki 27 tahun yg hidup di jakarta, mencari nafkah, bukan seleb, gak pernah berbuat kriminal...ya mohon maap klo cuma hal "keseharian biasa" itu yg bisa gue lakukan untuk bangsa ini.
ReplyDelete"kita harus peduli terhadap sesama saudara sebangsa yg lain" gue sendiri jujur bingung, how? dengan memberi sumbangan duit? dengan sekedar menulis rasa peduli di twitter? pasti bakal di komplen juga "jangan bisanya cuma ngetweet, gak ada wujudnya." apa gue harus pergi, tinggal, dan mengabdi di papua? jujur gue gak bisa. elo bisa? bisa ngasih ide cara mewujud lain?
jadi klo menurut gue, jangan bikin orang lain serba salah lah, coba belajar menghargai effort sekecil apapun. gak semua orang di indonesia ini orang hebat yg bisa mewujud aksi menumbuhkan cinta tanah air segenap anak bangsa dan empati, serta membantu secara real/signifikan kepada saudara yg lain.
nyinyir terhadap effort seseorang itu justru tanda kita tidak "indonesia." sori klo komen gue kepanjangan, soalnya seharian ini gue bosen liat komentar nyinyir orang ingin terlihat nasionalis dgn cara meledek orang yg gembira merayakan dirgahayu kemerdekaan negaranya. tabrakan banget logikanya.
Terserah you deh bro.. Baca tulisan, bedakan dulu mana itu kritis dan nyinyir.
ReplyDeleteSaya tidak meledek gerakan ini-itu, hanya sekedar meninggalkan catatan. Saya ngga ngetweet pake hastag itu, karena simple, saya menghargainya.
setelah upacara bendera di lapangan (nyata bukan maya), dihelat satu nasional, memang apa yg terjadi di indonesia? ya sama aja, gitu-gitu aja. bicara hal-hal yg ideal itu mudah bukan main, gue klo jadi gubernur jakarta pengennya begini begitu begini begitu. tapi klo ditanya how? gue gak bisa jawab juga.
ReplyDeletenah kira-kira kasih contoh donk hal apa yg patutnya dilakukan ketika rakyat ingin merayakan dirgahayu kemerdekaan negerinya, yg bisa mewujud nyata ada manfaatnya buat indonesia dan bisa bikin perubahan?
"do something buat indonesia gak harus ketika 17 agustus kalee," iya betul, tapi kali ini temanya kan partisipasi merayakan dirgahayu yg cuma sehari ini. klo mau melarang orang indonesia untuk merayakan krn gak ada gunanya, naif, buang-buang waktu, mubazir, dll. ya gak bisa juga kan, setiap warga bebas mau merayakan dirgahayu. soalnya gue baca di seluruh tulisan elo itu, gak ada solusi atau ide alternatif pencerahnya. jadi klo pun ada pembaca yg setuju dengan pendapat elo, mereka masih mungkin untuk mentok, "oke tweet-tweetan #17an itu gak mewujud guna banget, trus...ngapain donk gue?" semacam itu lah.
iya bener, emang terserah. yg menilai diri kita kan emang bagusnya ya orang lain, klo kita menilai diri kita sendiri, narsis namanya. jadi ya begini lah aksi-reaksi kausialnya; elo nulis, orang baca, dan orang nilai dlm bentuk feedback yg beraneka ragam. cukup natural kan? hehe. gue juga cuma meninggalkan catatan kok. kan gue nulisnya "ada orang-orang yang..." itu jamak, gue gak nyebut itu elo lho.
ReplyDeleteKalo saya nyinyir doank dan nggak suka sama gerakannya, ya saya bikin aja gerakan tandingan. Tapi ini tidak, sebenarnya Anda tahu ngga sih apa itu mengkritisi, mengolok-olok, menghakimi, dllsb?
ReplyDeleteKalo Anda bertanya apa yg saya lakukan, silakan baca postingan saya tahun lalu dengan mengajak orang untuk vote pulau Komodo. Lebih riil walapun sama-sama dilakukan via gadget atau PC. http://andre.web.id/kalau-baca-ini-harus-milih-titik/
ReplyDeleteSebuah gerakan sangat kecil dan tak berarti yg saya bangun di blog sendiri. Silakan baca juga responnya.. :)
begini, mohon maap juga klo misalnya kekesalan gue seharian ini pada ujungnya harus tumpah ruah di blog loe sebagai tujuan akhir. gak santun juga klo gue menjadikan elo tumbal kambing hitam.
ReplyDeletesimple sih begini--entah kenapa gue juga gak ngerti, sampe nulis panjang lebar ky di atas--ada orang yg ingin do something, walau yg dilakukan itu TIDAK ada manfaatnya sama sekali, setidaknya gak ada keburukannya juga kan. ya biarin aja mereka melakukan, klo gak mau ikutan juga gak papa, bahkan mau mengkritik pun boleh/bebas.
nah gue yakin elo juga pasti sepakat bahwa isi kepala orang beda-beda, ini lah isi kepala gue; kalimat "mengukur kadar sukes atau tidaknya pencapaian bangsa ini hanya terukur lewat berbagai tools social media analytic," menurut gue itu kesimpulan yg elo bikin, dan bisa masuk kategori penghakiman. klo loe make kata tanya "apakah" atau yg lain, gue asumikan sebagai kritik. lalu ada kalimat "biarlah para social media expert..." terdengar seperti mocking. trus elo bilang "wujud bukan hanya simbolisasi" ehm panjang ini sih klo mau diulas haha
semua blogger pasti mahfum, nulis di dunia maya banyak yg baca banyak yg beda pendapat. peace, merdeka #17an <= teuteup haha
begitulah.... :)
ReplyDeleteSemua sah-sah saja dalam mengemukakan pendapat. Silakan tumpahkan lagi juga boleh. Mau trackback tulisan ini lewat blog Anda juga tak apa. Saya terbuka....
Merdeka!
ehm orang-orang yg disebut socmed expert itu, walau gak kenal secara pribadi, gue tau di dunia nyata mereka udah buanyak bikin kegiatan yg sedikit-banyak bermanfaat buat negeri ini bro, mereka keliling nusantara membangun komunitas lokal, bikin akademi berbagi, ajang silaturahmi pesta blogger, bike to work, forum ngobrol-ngobrol di langsat yg sering menghadirkan narasumber keren/ngetop, klo mereka bukan "something real" gak bakal juga bisa memikat komunitas atau narsum atau koneksi atau pengikut yg "gak biasa." jauh lebih banyak dari para pengkritiknya, no offense, gue gak lagi ngomongin elo, karna nyatanya hari ini yg "kritis" ttg kerek bendera ya banyak juga. keren juga tuh komodo thingy-nya :D
ReplyDeletemungkin dalam rangka dirgahayu ini mereka hanya ingin sekedar bikin hiburan iseng-iseng buat umat twitland, why not? why so serious?
masalah berkomunitas. Komunitas yang saya naungi saat ini juga dekat kok dengan langsat. Dan saya juga tau mereka, tuh yang komen artikel paling atas (mas klanjabrik) juga kerjanya di salingsilang. hehehe
ReplyDeletePostingan sebelum ini juga berbau-bau langsat kok, saya malah ikut Obsatnya.. :D Belum lama ini saya juga terlibat dalam #sharingKeliling-nya mereka.. :)
kebetulan dari sekian banyak artikel blog yg "mengkritisi" kerek bendera, link blog ente ini gan yg paling banyak berseliweran di TL. seperti yg gue tulis di atas; klo misalnya orang-orang yg elo sebut socmed expert itu gak ada kerjaannya sama sekali selain bikin kegiatan kerek bendera, mungkin gue akan mengkritisi juga, tapi ternyata enggak, their actions speak louder, mereka udah banyak bikin kegiatan yg mewujud nyata banget ketimbang yg dilakukan pengkritiknya. malah takutnya tengsin sendiri klo gue mau mengkritik mereka hehe. but hey, last time i check, its a free country :)
ReplyDeleteTapi yang saya maksudkan dengan socmed experts bukan mereka lho ya... hehe. Yg saya sebut socmed experts di komentarnya mas Fajar itu orang lain dan bukan orang Jakarta.. Saya sudah berkunjung ke TKP-nya.. :D
ReplyDeletewow klo begitu kita bisa ketemu kapan-kapan hehe nice to know you, gue sering juga mangkal di situ, tapi klo lagi obsat aja sih, itu juga klo temanya seksi menurut gue + prasmanannya lagi spesial :D
ReplyDeletenah, berarti gue harus minta maap lagi :) maapin ya
ReplyDeletengga usah minta maaf bro..
ReplyDeleteSenang bisa berdiskusi dengan Anda di tulisan ini. Cuma masalahnya, kita punya isi kepala yg tidak sama dan itu wajar Terima kasih ya! :-)
last one. klo yg loe maksud itu upacara yg ada anies baswedan & andrew darwis sebagai komandannya, demi tuhan gue dari kemaren juga mikir ky begitu, upacara (per definisi) virtual gak makna banget hahaha tapi jangan bilang siapa-siapa (>_<)v
ReplyDeletegue langsung menyangkut-pautkan socmed expert itu dengan orang-orang langsat, karna di artikel ini ada frasa "kerek bendera" dan #17an, jadi ya 100% siapa pun yg baca akan haqul yakin berpikir hal itu tentang orang-orang langsat :D
ReplyDeletemaksudnya yg punya blog socmed experts ada di sini mas bro http://frog.web.id/lucu-dan-banggalah-pemalas-kwog/
ReplyDeleteperbedaan itu indah, semoga saja dengan perbedaan hal-hal seperti ini di tahun depan bisa muncul peringatan 17an yang memang berawal dari online dan terwujudkan dalam gerakan offline. Amin.
Sudah dijawab oleh mas Fajar sendiri ya, soal socmed expertnya..
ReplyDeleteah, ternyata ini yang jadi trendingtopic, LOL
ReplyDeletenang bublez yuk, Ndre
trending topic nyelain tulisan ini ya? hahaha
ReplyDeleteGelisah, mas?
ReplyDeleteTidak apa2, artinya situ berpikir
Tapi tulisan ini meninggalkan bbrp bagian yang kurang juga menurut saya :). Jika taggar sebagai visual bendera, dan kegiatan ini simbolisasi, lalu apa yg salah?
Ketika bendera menjadi simbol negara, dan sebagian dari kita menjadi marah jika bendera terinjak di tanah, atau sebagian lagi ada yg melarang hormat bendera karena itu menjadi simbolisasi keESAan.
Jika kita mau mengembalikan semua pada makna harfiah atau etimologi buat semua definisi, saya membayangkan kita tidak merdeka di 17 Agustus 1945. Bayangkan jika tidak ada anak2 muda yg bersemangat yang tidak mendesak Sukarno-Hatta untuk maen sikat sajakala itu? Padahal Soekarno-Hatta dan senior2 tua itu selama berbulan2 masih sibuk mengatur etimologi dan konteks bahasa mereka yg bisa ditawarkan kepada pihak Jepang.
Anda pernah tahu pilihan kata pada poster penggugah semangat merdeka di awal kemerdekaan buatan Chairil Anwar? "Boeng, Ajoe Boeng!?
Catatan sejarah mengatakan kalimat itu diinspirasi dari perempuan2 PSK di Sarkem, Jogja yang suka menjajakan "dagangannnya" dengan kalimat demikian. Dan Chairil Anwar teringat kalimat itu, ketika ditodong Affandi untuk memberi tagline dari poster nya.. (ya, memang Charil Anwar itu pelanggan setia Sarkem, mati pun karena sipilis dia).
Bayangkan jika rombongan fanatik kanan tahu sumber inspirasi poster itu dulu? Tidak akan ada poster itu tersebar di lorong-lorong jakarta atau dinding Venderburg
Ada banyak konteks dimana kita bisa memahami konteks yg lebih luas dan dipilih oleh sebuah tim kreatif, misal dsini temen2 kreatif di Salingsilang. Apa alasannya, dan bagaimana eksekusinya, sehingga itu bisa melibatkan sebisa dan sebanyak mungkin anak muda Indonesia. bagiamana mengobarkan semangat mereka dengan cara yg fleksibel. Bagaimana mendengar keluhan mereka untuk Indonesia yang mereka mau, walau lewat secuil SMS. Ada banyak alasan, ada banyak pandangan.. anda bisa tanyakan langsung dengan temen2 kreatif itu.
Dan jika sudah demikian, benar adanya kalimat ini :
"Saya kuatir, semua elemen bangsa ini akhirnya hanya digaungkan lewat Twitter. Mengukur kadar sukes atau tidaknya pencapaian bangsa ini hanya terukur lewat berbagai tools social media analytic."..
Memang! Tidak hanya lewat twitter kok :) .. aku percaya banyak cara dan sangat sederhana untuk saling membantu pencapaian bangsa..
Anda bisa lewat vote komodo? Teman2 Salingsilang bisa dengan cara ini, dan tunggu saja cara2 lain..
Leksa,
Ya. Saat ini saya nongkrong di Langsat.
Terima kasih sudah mau berkomentar di artikel saya. Pertama, saya tidak menunjuk dan sama sekali tidak menunjuk dan mempermasalahkan siapa yang membuat. Ini penting, karena tidak mau subjektif. Dan saya tidak menentang. :)
ReplyDeleteMenulis disini, hanya beralaskan kekuatiran saja. Boleh donk, saya kuatir dan memberi catatan kalau ada gerakan yang muncul.
Saya tidak sesumbar masalah komodo, karena ditanya ya saya jawab. Namun itu tidak berarti apa-apa. Mengingat blog ini juga apa adanya.
Menarik membaca cerita yang Anda sampaikan di atas, apalagi soal Chairil Anwar. Saya jadi lebih terbuka dalam memandang suatu.
Nah, saya lebih ingin bertanya adakah konversi dari gerakan ini menjadi tindakan. Jika ada dan memang saya sreg, maka saya akan mendukung. Besar di komunitas juga saya ambil pelajaran, bahwa hati yang merangsang perbuatan. Jika tidak sreg ya kemukakan kalau cocok ya lakukan. Tidak hanya latah semata. Begitu saja menurut saya... :)
Catatan ini murni bukan untuk menentang, saya lebih ingin mengemukakan pendapat. Jika Anda menganggap lain, ya, saya anggap itu wajar. :)
Maturnuwun, mas Leksa...
wah serem,
ReplyDeletepadahal hanya hashtag... dan hanya dari itu-itu
mbok yang rukun, nggak usah saling membela atau mendukung... wong ya sama-sama orang indonesia, semua ingin membangun dan mengisi, meskipun hanya dengan hashtag... semua hashtag memang kreatif... cuma kemudian kalo sampai ada dukung mendukung.. nggak beda dengan sepakbola, balbalan... ya abal-abal jadinya... terus tawuran, twit war... meski tidak ada salah menang, namun pasti melibatkan emosi...
nah kalo sudah sampe emosi, bisa gawat... menimbulkan luka, semoga tidak begitu... #mdrcct
Ah ya, saya juga lihat penanda itu, tapi saya tidak ikutan, saya meliburkan diri saat 17-an, dan memilih menggosok kamar mandi yang nodanya membandel sampai badan saya pegal-pegal.
ReplyDeleteNamun meski tidak turut serta, saya tidak ingin berpikiran terlalu pelik, setidaknya, mereka yang berpartisipasi, karena mereka mencintai Indonesia :).
Lucu baca realita ini. :D
ReplyDeleteKayaknya masyarakat kita udah dibutakan sama social media. Seakan-akan kalo kita melakukan sesuatu di social media akan berdampak sama di dunia nyata.
Aneh bin ajaib. Mengerek bendera gaib itu namanya. :)