"Fenomena sosial media yang harus segera dipotret untuk dijadikan referensi masa depan." Kata Dhandy Laksono, Produser dokufilm @linimas(s)a di acara #3GMerapi, Jogja, 18 Maret 2010.

Sesaat setelah menuliskan resensi dokufilm @linimas(s)a di @linimas(s)a: Tentang Penggunaan Internet Bangsa Ini, saya bersama teman-teman Komunitas Blogger Bengawan & Yayasan Talenta bertolak ke Jogjakarta, tepatnya di Societet Taman Budaya Jogjakarta untuk mengikuti acara #3GMerapi yang didalamnya ada pemutaran dokufilm @linimas(s)a, diskusi, dan donasi untuk Merapi.
[caption id="attachment_1647" align="alignleft" width="210" caption="Perempatan Janti"]
[/caption]
Pukul 17.30 saya sudah sampai di Janti, yang menurut saya jika melakukan perjalanan Solo-Jogja, pertigaan di bawah jalan layang ini adalah penanda bahwa saya sudah masuk kota Jogjakarta. Tak lupa, saya mengabadikan lampu merah di perempatan ini dengan ponsel pintar saya yang tidak smart-smart amat. "Ahh,, sebentar lagi nyampe.."
Akhirnya sampai di TBY tepat pukul 18.00. Seperti biasa, ritual salam menyalami antara blogger yang saling kenal tapi jarang jumpa-pun dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari 3D (Datang, Duduk, Dlongap-Dlongop) dan tentunya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Seperti mencari kamar kecil. :D
Acara pertama yang saya temui di sana adalah penampilan enerjik dari sebuah band lokal yang saya lupa namanya. Namun yang paling saya ingat adalah band tersebut mempunyai videoclip yang lokasi shootingnya di kaki gunung Merapi yang rusak akibat erupsi Merapi 26 Oktober 2010.
Acara berlanjut ke pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang terkenal bisa mengocok perut para penontonnya. Walaupun saya beberapa kali sudah melihat pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, namun ketika dalang memainkan lakon pak Lurah, saya masih terpingkal karena dialog dan warna suara yang unik dan suka membuat bingung lawan bicaranya.
[caption id="attachment_1680" align="aligncenter" width="500" caption="Pak Onno W Purbo Tertawa Ketika Melihat Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah -- Dok: Bengawan"]
[/caption]
Wayang Kampung Sebelah untuk sementara waktu menyudahi pertunjukannya dan memberikan waktu untuk pemutaran dokufilm @linimas(s)a. Dalam waktu sekejap, pengunjung acara #3GMerapi yang masih tercecer di sekitaran TBY langsung berebut tempat di dalam ruangan yang sudah diberi tikar dan disediakan big screen untuk menonton dokufilm social media pertama di Indonesia ini. Seperti biasa, lampu diredupkan dan film dimulai.
Sepertinya ada yang salah dengan kaset DVD yang diputar, gambar dan suara yang tampil di bigscreen tersendat-sendat. Namun, setelah diganti dengan kaset yang lain dengan film yang sama tentunya. Film yang berdurasi sekian menit itu lancar jaya dan bisa dinikmati oleh pengunjung #3GMerapi.
Setelah muncul kredit film yang menandakan film sudah habis ditonton, acara 3GMerapi disambung dengan diskusi oleh beberapa narasumber yang ada di dalam dokufilm @linimas(s)a. Siapa saja mereka?
[caption id="attachment_1683" align="aligncenter" width="500" caption="Diskusi #3GMerapi -- Dok: Bengawan"]
[/caption]
Saya akan menyajikan diskusi #3GMerapi ini dengan format cerita yang saya dengar dari tanya jawab dengan mengemasnya dalam masing-masih narasumber.
Onno selaku moderator memberikan pertanyaan pertama kepada Harry Van Jogja kenapa memilih nama "Van Jogja"? Lalu Harry-pun menjawab karena saya bisa berbahasa Belanda meskipun tidak terlalu fasih.
[caption id="attachment_1664" align="alignleft" width="151" caption="Harry van Jogja -- Foto diambil dari blog Harry"]
[/caption]
Pertanyaan dilanjutkan dengan kapan Harry mulai mengenal internet. Menurut penuturan Harry, dia mengenal internet mulai tahun 1999 dan dikenalkan oleh seorang Inggris yang menjadi clientnya saat berkunjung di Jogja. Mulai saat itu, Harry pun mengembangkan cara belajar otodidak dan mulai mengais informasi-informasi yang ada di internet. Harry-pun mengikuti berbagai social media dari saat itu, dari Friendster, Friendster dan lain-lain, termasuk yang saat ini sedang HOT, Twitter.
Dari internet, Harry lalu bisa menemukan metode penggunaan social media (Facebook) yang disinergikan dengan pekerjaannya? Harry menjawab, "saya memang sejak awal tidak mau keluar uang untuk berinternet". Rupanya moderator dan penonton masih bingung (saya juga bingung..hehe)". Dia kemudian menjabarkan, "Saya ingin tidak keluar uang untuk biaya internetan karena masih punya kebutuhan lain yang lebih membutuhkan uang." Tidak mau rugi tapi menghasilkan.
Rupanya "prinsip" Harry tokcer untuk menjadikan social media sebagai sarana promosi jasa antar jemput dengan becaknya. calon penunggang becak Harry bisa "memesan" becak Harry dengan media Facebook. Dari situ, Harry yang biasanya hanya mangkal di pangkalan becak dan menunggu penumpang dan kadang berebut dengan tukang becak lain, sekarang dia bisa dipanggil dan jika kosong, Harry bisa segera menjemput dan mengantar penumpang sampai ke tujuan.
Bukan hanya warga Jogja saja yang mempergunakan jasa becak Harry, dia pun sering dapat order untuk menjadi guide setelah dia bersinergi dengan Facebook. Di dalam film @linimas(s)a, Harry juga kedapatan sedang di wawancarai oleh orang Jepang.
"Apakah teman-teman mas Harry juga meniru langkah promosi dengan social media?", tanya peserta diskusi kepada Harry. Ternyata Harry tidak egois, dia malah membagi dan mengajari teman-temannya cara berinternet mulai dari dasar-dasar internet praktis baik kepada sesama tukang becak ataupun bukan.
Harry juga sedang merintis sebuah paguyuban becak di kota Jogja yang diberi nama Jogja Becak Adventure. Dia membentuk paguyuban ini untuk memperbaiki citra becak Jogja yang dinilai buruk (#barutahu). Dia dengan 2 temannya yang sudah fasih berinternet menggiring paguyuban ini dan mulai mengedukasi tiap-tiap pangkalan becak yang ada di kota Jogja. Karena niat baik ini, Harry dengan paguyubannya mendapatkan dua agen travel dan keanggotaan di paguyuban bisa mendapatkan lisensi untuk menjadi tour guide.
Ngga ngira ya, dari perkenalan dengan dunia online dan keuletan di offline bisa memberikan manfaat untuk orang sepekerjaan. Dan jarang lho, tukang becak itu melek teknologi.
Sosok dibalik Jalin Merapi yang fenomenal saat menjadi media penanganan bencana, pengakomodir bantuan dan relawan serta menginformasikan setiap saat kondisi Merapi saat erupsi.
[caption id="attachment_1670" align="alignleft" width="200" caption="Akhmad Nasir"]
[/caption]
Yang dilakukan Jalin Merapi adalah peran dalam menyambungkan masyarakat Indonesia yang terkenal sangat solider dalam situasi bencana namun terpisah dengan kendala komunikasi yang berbeda-beda. Informasi-informasi yang terdapat dari radio para relawan akhirnya disiarkan secara luas dengan konversi ke beberapa media komunikasi, salah satu diantaranya lewat social media.
Akun twitter @jalinmerapi yang dibuat tanggal 24 Oktober 2010 adalah salah satu media untuk menghimpun dan mempersatukan Indonesia yang ingin mendapat informasi. Akun ini diterima baik oleh pengguna twitter, follower akun ini pada hari ke dua, tepat pada waktu Merapi erupsi, mencapai 5000 dan dua minggu setelahnya, akun ini mempunyai 10000, sampai tulisan ini dibuat, mencapai 35000 follower.
Kekuatan informasi inilah yang membuat radio-radio komunitas dan radio relawan bisa didengar oleh pengguna Blackberry. "Saya sendiri sampai saat ini belum tahu siapa yang membuat aplikasi tersebut.", kata A. Nasir yang sebelumnya siaran radio ini hanya dapat diakses lewat PC atau laptop.
Menyinggung tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam berkomunikasi, ternyata peserta diskusi juga mendapat fakta yang menurut saya tidak mengagetkan. Sebelum social media belum booming, informasi-informasi dikuasai oleh media massa, baik koran, TV atau radio yang selalu memposisikan Pemerintah sudah melakukan penanganan bencana secara baik. Pada kenyataannya itu tidak terjadi. Pemerintah banget, bukan? :D
Sebenarnya kesuksesan Jalin Merapi bukan hanya dari social media. Mereka bisa jadi seperti sekarang tak lepas dari beberapa hal sehingga dari mulai terbentuk pada erupsi Merapi tahun 2006 sampai sekarang Jalin Merapi tetap ada.
Dukungan dari masyarakat bawah. A Nasir mengungkapkan bahwa di lapisan bawah, pedesaan atau yang tidak akrab dengan dunia internet. Informasi pengumpulan bantuan dikomunikasikan dengan speaker Masjid. Di daerah Gunung Kidul, petani yang mengirim bantuan berupa sayur juga di koordinir oleh suara dari speaker masjid. Papar A Nasir, "Pagi mereka ke ladang, sore mereka lewat suara speaker masjid mengemasi bahan-bahan apa saja yang akan dikirim dan selanjutnya dikumpulkan di satu tempat."
Relawan-relawan muda yang kreatif dan berdedikasi adalah salah satu kekuatan Jalin Merapi. Mereka bekerja tanpa pamrih dan rela mengorbankan apa saja. "Sampai ada yang menjual harta benda untuk biaya pemantauan", kata A Nasir.
"Apa kelanjutan Jalin Merapi dan apa kunci suksesnya?" tanya dua orang anggota diskusi. "Jalin Merapi sudah ada akan terus ada, kita sudah berdiri dari 2006 dan sampai saat ini masih ada relawan yang dari tahun 2006 masih aktif sampai sekarang. Untuk pasca bencana, Jalin Merapi menyediakan jasa tracking dan guiding serta gerakan-gerakan peduli alam", tegas A Nasir.
"Jika pemerintah tidak sanggup untuk memberikan informasi atau menangani, ya terpaksa, kita-kita ini (rakyat sendiri) yang harus membuat dan menangani itu." tukas pria murah senyum ini ketika ada Onno W Purbo mengaitkan dengan Tsunami Jepang.
Salah satu blogger Indonesia ini menjadi tokoh yang ada di dokufilm @linimas(s)a yang aktif di komunitas blogger yang perannya sangat nyata di Komunitas Blogger Bengawan. Saat ini, Komunitas Blogger Bengawan mempunyai sekretariat bersama dengan Yayasan Talenta, suatu yayasan yang bergerak di advokasi kaum difable. Sebagai salah satu kegiatan, Bengawan juga turut mengenalkan dunia teknologi komunikasi kepada semua lapisan masyarakat khususnya di Solo.
"Kami sudah memliki jadwal pelatihan untuk difable, Pekerja Seks Komersil (PSK), dan pernah mengadakan pelatihan komputer untuk tuna netra yang bekerja sama dengan Yayasan Air Putih." kata Blontankpoer.
"Salah satu peserta pelatihan, Entok (salah satu tokoh yang ada di dokufilm -red) yang kami latih secara rutin selama dua bulan, sekarang sudah bisa mahir dalam mengoperasikan internet dasar." Ini yang membuat kaget Onno W Purbo. Dan pada akhir acara, Onno W Purbo, Blontankpoer, Entok dan anggota Talenta berfoto bersama.
[caption id="attachment_1681" align="aligncenter" width="500" caption="Onno W Purbo Bersama Entok "difable" -- Dok: Bengawan"]
[/caption]
Namun pak Bhe (sapaan akrab Blontankpoer) enggan jika kesuksesan Komunitas Blogger Bengawan dikaitkan dengan dirinya semata. "Ini kerja keras semua anggota Bengawan.", tukas Blontankpoer.
(untuk foto, biasanya pak Bhe menyuruh untuk mencarinya di Google dengan memasukan kata "blontankpoer"... :D )
Sebagai korporasi yang bergerak di bidang jasa penyedia layanan komunikasi, Harry DJ mewakili XL Axiata menjawab tentang pertanyaan sekitar penggunaan internet khususnya lewat mobile data dan smartphone.
Harry DJ memberikan data tentang penggunaan mobile handset yang memakai jasa layanannya. "40% dari 40juta pelanggan XL, HP nya bisa terkoneksi langsung dengan internet. Yang aktif setiap hari menggunakan mobile datanya sekitar 12 juta dan hampir semuanya mengakses situs jejaring sosial, Facebook. "
Terkait dengan ponsel pintar, "Penggunaan BB yang sangat tinggi di Indonesia pada awalnya sampai membuat bingung RIM, pabrikan BB asal Kanada. Pada tahun 2008, pengguna BB dengan layanan XL mencapai seratus ribu pengguna. Sekarang delapan ratus lima belas ribu dari total 3 juta pengguna BB menggunakan jasa layanan dari XL"
Dengan begitu banyaknya pengguna dari XL, apakah XL juga memberikan keamanan bagi remaja? Harry mengatakan bahwa XL sudah melakukan filtering terhadap konten-konten negatif sejak tahun 2008.
Dandhy Laksono adalah director yang memproduksi dokufilm @linimas(s)a. Dia adalah seorang mantan wartawan dan sekarang bekerja di bidang visual media dan beberapa kali membuat film dokumenter. Selain @linimas(s)a, Dandhy juga terlibat dalam proses pembuatan film dokumenter tentang Munir.
Dalam pembuatan dokufilm @linimas(s)a, Dandhy sendiri mengaku bila ada beberapa tokoh yang belum pernah jumpa darat dan baru ketemu di acara #3GMerapi ini.
"Bagaimana cara pengambilan gambar di dalam film ini?" tanya seorang anggota diskusi. Dandhy menjawab dengan "Yang penting ketekunan untuk merekam semua momen. Ada kalanya ketika mas Nasir ngomong ada posisi yang kurang pas. Semua harus ditangkap. Pada proses produksi, @linimas(s)a menghabiskan 60 kaset dan total 60 jam."
Ditujukan untuk siapa dan di mana saja film ini? "Film ini sengaja diperuntukan (sementara) untuk komunitas-komunitas yang bergerak di bidang online dan kepada lapisan menengah yang mewah. Nantinya dari komunitas-komunitas ini bisa menjalar ke masyarakat sekitarnya. Bahasa memang terlalu tinggi untuk orang tidak terlalu bersinggungan dengan gadget atau sosial media. Dikarenakan ada gap antara lapisan-lapisan masyarakat dalam teknologi informasi. Jadi target penonton memang sudah di set sedari awal.", jawab sang director.
Menyinggung tentang teknologi komunikasi khususnya internet yang semakin baik dan semakin mudah didapat, Dandhy Laksono berujar, "Kemudahan teknologi ini bukan karena sosial, namun karena permainan pasar yang membuat ini semua mudah di akses." Tapi, yang saya sampaikan di sini kurang nendang, kurang dengan bahasa tinggi seorang Dandhy yang pada saat itu sukses membuat peserta bertepuk tangan. Makanya, besok kalo ada acaranya datang deh.. :))
Dengan fenomena pergerakan dan penghimpunan dengan sosial media, seperti kasus Prita dengan Koin untuk Prita dan Bibit Candra (Gerakan 1 Juta Facebooker), dan Jalin Merapi dengan penanganan bencananya dan kasus-kasus itu memiliki cakupan nasional, maka tegas Dandhy, "Fenomena sosial media yang harus segera dipotret untuk dijadikan referensi masa depan."
Itulah tadi bagian dari diskusi, acara dilanjut dengan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang menuntaskan lakonnya. Sehabis itu ada acara lelang foto-foto Merapi.
Sehabis itu, saya dan Bengawaners, Mas A Nasir + tim Jalin Merapi dan tim Internet Sehat beserta mas Suryaden menikmati makan malam bersama di Gudeg... ehhmm lupa lagi... hehe.. Pokoknya enak, karena perut sudah keroncongan.. he he he
Selepas makan, saya pulang ke Solo dan mulai menghimpun semangat untuk menulis sebanyak ini.... :)
Follow twitter saya di @andreanisme. Walah... Masih sempat-sempatnya promosi.. #jabaterat :D
Thanks to: Internet Sehat, Bengawan, Blontankpoer, Hasssan, Mursid, Hendri, Dony Alfan, Suryaden, Sam Ardi, dan... SPG berbaju putih.. Ada gula ada semut, SPG berbaju putih itu bikin cenat-cenut...
Sesaat setelah menuliskan resensi dokufilm @linimas(s)a di @linimas(s)a: Tentang Penggunaan Internet Bangsa Ini, saya bersama teman-teman Komunitas Blogger Bengawan & Yayasan Talenta bertolak ke Jogjakarta, tepatnya di Societet Taman Budaya Jogjakarta untuk mengikuti acara #3GMerapi yang didalamnya ada pemutaran dokufilm @linimas(s)a, diskusi, dan donasi untuk Merapi.
[caption id="attachment_1647" align="alignleft" width="210" caption="Perempatan Janti"]
Pukul 17.30 saya sudah sampai di Janti, yang menurut saya jika melakukan perjalanan Solo-Jogja, pertigaan di bawah jalan layang ini adalah penanda bahwa saya sudah masuk kota Jogjakarta. Tak lupa, saya mengabadikan lampu merah di perempatan ini dengan ponsel pintar saya yang tidak smart-smart amat. "Ahh,, sebentar lagi nyampe.."
Akhirnya sampai di TBY tepat pukul 18.00. Seperti biasa, ritual salam menyalami antara blogger yang saling kenal tapi jarang jumpa-pun dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari 3D (Datang, Duduk, Dlongap-Dlongop) dan tentunya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Seperti mencari kamar kecil. :D
Acara pertama yang saya temui di sana adalah penampilan enerjik dari sebuah band lokal yang saya lupa namanya. Namun yang paling saya ingat adalah band tersebut mempunyai videoclip yang lokasi shootingnya di kaki gunung Merapi yang rusak akibat erupsi Merapi 26 Oktober 2010.
Acara berlanjut ke pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang terkenal bisa mengocok perut para penontonnya. Walaupun saya beberapa kali sudah melihat pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, namun ketika dalang memainkan lakon pak Lurah, saya masih terpingkal karena dialog dan warna suara yang unik dan suka membuat bingung lawan bicaranya.
[caption id="attachment_1680" align="aligncenter" width="500" caption="Pak Onno W Purbo Tertawa Ketika Melihat Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah -- Dok: Bengawan"]
Wayang Kampung Sebelah untuk sementara waktu menyudahi pertunjukannya dan memberikan waktu untuk pemutaran dokufilm @linimas(s)a. Dalam waktu sekejap, pengunjung acara #3GMerapi yang masih tercecer di sekitaran TBY langsung berebut tempat di dalam ruangan yang sudah diberi tikar dan disediakan big screen untuk menonton dokufilm social media pertama di Indonesia ini. Seperti biasa, lampu diredupkan dan film dimulai.
Sepertinya ada yang salah dengan kaset DVD yang diputar, gambar dan suara yang tampil di bigscreen tersendat-sendat. Namun, setelah diganti dengan kaset yang lain dengan film yang sama tentunya. Film yang berdurasi sekian menit itu lancar jaya dan bisa dinikmati oleh pengunjung #3GMerapi.
Diskusi
Setelah muncul kredit film yang menandakan film sudah habis ditonton, acara 3GMerapi disambung dengan diskusi oleh beberapa narasumber yang ada di dalam dokufilm @linimas(s)a. Siapa saja mereka?
- Onno W Purbo (Paktisi IT dan moderator dalam diskusi)
- Dandhy Laksono (Director dokufilm @linimas(s)a)
- Blassius Haryadi a.k.a Harry van Jogja (Tukang Becak yang identik dengan Facebook)
- Akhmad Nasir (Jalin Merapi)
- Blontankpoer (Komunitas Blogger Bengawan)
- Harry DJ (XL Axiata)
[caption id="attachment_1683" align="aligncenter" width="500" caption="Diskusi #3GMerapi -- Dok: Bengawan"]
Saya akan menyajikan diskusi #3GMerapi ini dengan format cerita yang saya dengar dari tanya jawab dengan mengemasnya dalam masing-masih narasumber.
Harry van Jogja
Onno selaku moderator memberikan pertanyaan pertama kepada Harry Van Jogja kenapa memilih nama "Van Jogja"? Lalu Harry-pun menjawab karena saya bisa berbahasa Belanda meskipun tidak terlalu fasih.
[caption id="attachment_1664" align="alignleft" width="151" caption="Harry van Jogja -- Foto diambil dari blog Harry"]
Pertanyaan dilanjutkan dengan kapan Harry mulai mengenal internet. Menurut penuturan Harry, dia mengenal internet mulai tahun 1999 dan dikenalkan oleh seorang Inggris yang menjadi clientnya saat berkunjung di Jogja. Mulai saat itu, Harry pun mengembangkan cara belajar otodidak dan mulai mengais informasi-informasi yang ada di internet. Harry-pun mengikuti berbagai social media dari saat itu, dari Friendster, Friendster dan lain-lain, termasuk yang saat ini sedang HOT, Twitter.
Dari internet, Harry lalu bisa menemukan metode penggunaan social media (Facebook) yang disinergikan dengan pekerjaannya? Harry menjawab, "saya memang sejak awal tidak mau keluar uang untuk berinternet". Rupanya moderator dan penonton masih bingung (saya juga bingung..hehe)". Dia kemudian menjabarkan, "Saya ingin tidak keluar uang untuk biaya internetan karena masih punya kebutuhan lain yang lebih membutuhkan uang." Tidak mau rugi tapi menghasilkan.
Rupanya "prinsip" Harry tokcer untuk menjadikan social media sebagai sarana promosi jasa antar jemput dengan becaknya. calon penunggang becak Harry bisa "memesan" becak Harry dengan media Facebook. Dari situ, Harry yang biasanya hanya mangkal di pangkalan becak dan menunggu penumpang dan kadang berebut dengan tukang becak lain, sekarang dia bisa dipanggil dan jika kosong, Harry bisa segera menjemput dan mengantar penumpang sampai ke tujuan.
Bukan hanya warga Jogja saja yang mempergunakan jasa becak Harry, dia pun sering dapat order untuk menjadi guide setelah dia bersinergi dengan Facebook. Di dalam film @linimas(s)a, Harry juga kedapatan sedang di wawancarai oleh orang Jepang.
"Apakah teman-teman mas Harry juga meniru langkah promosi dengan social media?", tanya peserta diskusi kepada Harry. Ternyata Harry tidak egois, dia malah membagi dan mengajari teman-temannya cara berinternet mulai dari dasar-dasar internet praktis baik kepada sesama tukang becak ataupun bukan.
Harry juga sedang merintis sebuah paguyuban becak di kota Jogja yang diberi nama Jogja Becak Adventure. Dia membentuk paguyuban ini untuk memperbaiki citra becak Jogja yang dinilai buruk (#barutahu). Dia dengan 2 temannya yang sudah fasih berinternet menggiring paguyuban ini dan mulai mengedukasi tiap-tiap pangkalan becak yang ada di kota Jogja. Karena niat baik ini, Harry dengan paguyubannya mendapatkan dua agen travel dan keanggotaan di paguyuban bisa mendapatkan lisensi untuk menjadi tour guide.
Ngga ngira ya, dari perkenalan dengan dunia online dan keuletan di offline bisa memberikan manfaat untuk orang sepekerjaan. Dan jarang lho, tukang becak itu melek teknologi.
Akhmad Nasir
Sosok dibalik Jalin Merapi yang fenomenal saat menjadi media penanganan bencana, pengakomodir bantuan dan relawan serta menginformasikan setiap saat kondisi Merapi saat erupsi.
[caption id="attachment_1670" align="alignleft" width="200" caption="Akhmad Nasir"]
Yang dilakukan Jalin Merapi adalah peran dalam menyambungkan masyarakat Indonesia yang terkenal sangat solider dalam situasi bencana namun terpisah dengan kendala komunikasi yang berbeda-beda. Informasi-informasi yang terdapat dari radio para relawan akhirnya disiarkan secara luas dengan konversi ke beberapa media komunikasi, salah satu diantaranya lewat social media.
Akun twitter @jalinmerapi yang dibuat tanggal 24 Oktober 2010 adalah salah satu media untuk menghimpun dan mempersatukan Indonesia yang ingin mendapat informasi. Akun ini diterima baik oleh pengguna twitter, follower akun ini pada hari ke dua, tepat pada waktu Merapi erupsi, mencapai 5000 dan dua minggu setelahnya, akun ini mempunyai 10000, sampai tulisan ini dibuat, mencapai 35000 follower.
Kekuatan informasi inilah yang membuat radio-radio komunitas dan radio relawan bisa didengar oleh pengguna Blackberry. "Saya sendiri sampai saat ini belum tahu siapa yang membuat aplikasi tersebut.", kata A. Nasir yang sebelumnya siaran radio ini hanya dapat diakses lewat PC atau laptop.
Menyinggung tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam berkomunikasi, ternyata peserta diskusi juga mendapat fakta yang menurut saya tidak mengagetkan. Sebelum social media belum booming, informasi-informasi dikuasai oleh media massa, baik koran, TV atau radio yang selalu memposisikan Pemerintah sudah melakukan penanganan bencana secara baik. Pada kenyataannya itu tidak terjadi. Pemerintah banget, bukan? :D
Sebenarnya kesuksesan Jalin Merapi bukan hanya dari social media. Mereka bisa jadi seperti sekarang tak lepas dari beberapa hal sehingga dari mulai terbentuk pada erupsi Merapi tahun 2006 sampai sekarang Jalin Merapi tetap ada.
Dukungan dari masyarakat bawah. A Nasir mengungkapkan bahwa di lapisan bawah, pedesaan atau yang tidak akrab dengan dunia internet. Informasi pengumpulan bantuan dikomunikasikan dengan speaker Masjid. Di daerah Gunung Kidul, petani yang mengirim bantuan berupa sayur juga di koordinir oleh suara dari speaker masjid. Papar A Nasir, "Pagi mereka ke ladang, sore mereka lewat suara speaker masjid mengemasi bahan-bahan apa saja yang akan dikirim dan selanjutnya dikumpulkan di satu tempat."
Relawan-relawan muda yang kreatif dan berdedikasi adalah salah satu kekuatan Jalin Merapi. Mereka bekerja tanpa pamrih dan rela mengorbankan apa saja. "Sampai ada yang menjual harta benda untuk biaya pemantauan", kata A Nasir.
"Apa kelanjutan Jalin Merapi dan apa kunci suksesnya?" tanya dua orang anggota diskusi. "Jalin Merapi sudah ada akan terus ada, kita sudah berdiri dari 2006 dan sampai saat ini masih ada relawan yang dari tahun 2006 masih aktif sampai sekarang. Untuk pasca bencana, Jalin Merapi menyediakan jasa tracking dan guiding serta gerakan-gerakan peduli alam", tegas A Nasir.
"Jika pemerintah tidak sanggup untuk memberikan informasi atau menangani, ya terpaksa, kita-kita ini (rakyat sendiri) yang harus membuat dan menangani itu." tukas pria murah senyum ini ketika ada Onno W Purbo mengaitkan dengan Tsunami Jepang.
Blontankpoer
Salah satu blogger Indonesia ini menjadi tokoh yang ada di dokufilm @linimas(s)a yang aktif di komunitas blogger yang perannya sangat nyata di Komunitas Blogger Bengawan. Saat ini, Komunitas Blogger Bengawan mempunyai sekretariat bersama dengan Yayasan Talenta, suatu yayasan yang bergerak di advokasi kaum difable. Sebagai salah satu kegiatan, Bengawan juga turut mengenalkan dunia teknologi komunikasi kepada semua lapisan masyarakat khususnya di Solo.
"Kami sudah memliki jadwal pelatihan untuk difable, Pekerja Seks Komersil (PSK), dan pernah mengadakan pelatihan komputer untuk tuna netra yang bekerja sama dengan Yayasan Air Putih." kata Blontankpoer.
"Salah satu peserta pelatihan, Entok (salah satu tokoh yang ada di dokufilm -red) yang kami latih secara rutin selama dua bulan, sekarang sudah bisa mahir dalam mengoperasikan internet dasar." Ini yang membuat kaget Onno W Purbo. Dan pada akhir acara, Onno W Purbo, Blontankpoer, Entok dan anggota Talenta berfoto bersama.
[caption id="attachment_1681" align="aligncenter" width="500" caption="Onno W Purbo Bersama Entok "difable" -- Dok: Bengawan"]
Namun pak Bhe (sapaan akrab Blontankpoer) enggan jika kesuksesan Komunitas Blogger Bengawan dikaitkan dengan dirinya semata. "Ini kerja keras semua anggota Bengawan.", tukas Blontankpoer.
(untuk foto, biasanya pak Bhe menyuruh untuk mencarinya di Google dengan memasukan kata "blontankpoer"... :D )
Harry DJ
Sebagai korporasi yang bergerak di bidang jasa penyedia layanan komunikasi, Harry DJ mewakili XL Axiata menjawab tentang pertanyaan sekitar penggunaan internet khususnya lewat mobile data dan smartphone.
Harry DJ memberikan data tentang penggunaan mobile handset yang memakai jasa layanannya. "40% dari 40juta pelanggan XL, HP nya bisa terkoneksi langsung dengan internet. Yang aktif setiap hari menggunakan mobile datanya sekitar 12 juta dan hampir semuanya mengakses situs jejaring sosial, Facebook. "
Terkait dengan ponsel pintar, "Penggunaan BB yang sangat tinggi di Indonesia pada awalnya sampai membuat bingung RIM, pabrikan BB asal Kanada. Pada tahun 2008, pengguna BB dengan layanan XL mencapai seratus ribu pengguna. Sekarang delapan ratus lima belas ribu dari total 3 juta pengguna BB menggunakan jasa layanan dari XL"
Dengan begitu banyaknya pengguna dari XL, apakah XL juga memberikan keamanan bagi remaja? Harry mengatakan bahwa XL sudah melakukan filtering terhadap konten-konten negatif sejak tahun 2008.
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono adalah director yang memproduksi dokufilm @linimas(s)a. Dia adalah seorang mantan wartawan dan sekarang bekerja di bidang visual media dan beberapa kali membuat film dokumenter. Selain @linimas(s)a, Dandhy juga terlibat dalam proses pembuatan film dokumenter tentang Munir.
Dalam pembuatan dokufilm @linimas(s)a, Dandhy sendiri mengaku bila ada beberapa tokoh yang belum pernah jumpa darat dan baru ketemu di acara #3GMerapi ini.
"Bagaimana cara pengambilan gambar di dalam film ini?" tanya seorang anggota diskusi. Dandhy menjawab dengan "Yang penting ketekunan untuk merekam semua momen. Ada kalanya ketika mas Nasir ngomong ada posisi yang kurang pas. Semua harus ditangkap. Pada proses produksi, @linimas(s)a menghabiskan 60 kaset dan total 60 jam."
Ditujukan untuk siapa dan di mana saja film ini? "Film ini sengaja diperuntukan (sementara) untuk komunitas-komunitas yang bergerak di bidang online dan kepada lapisan menengah yang mewah. Nantinya dari komunitas-komunitas ini bisa menjalar ke masyarakat sekitarnya. Bahasa memang terlalu tinggi untuk orang tidak terlalu bersinggungan dengan gadget atau sosial media. Dikarenakan ada gap antara lapisan-lapisan masyarakat dalam teknologi informasi. Jadi target penonton memang sudah di set sedari awal.", jawab sang director.
Menyinggung tentang teknologi komunikasi khususnya internet yang semakin baik dan semakin mudah didapat, Dandhy Laksono berujar, "Kemudahan teknologi ini bukan karena sosial, namun karena permainan pasar yang membuat ini semua mudah di akses." Tapi, yang saya sampaikan di sini kurang nendang, kurang dengan bahasa tinggi seorang Dandhy yang pada saat itu sukses membuat peserta bertepuk tangan. Makanya, besok kalo ada acaranya datang deh.. :))
Dengan fenomena pergerakan dan penghimpunan dengan sosial media, seperti kasus Prita dengan Koin untuk Prita dan Bibit Candra (Gerakan 1 Juta Facebooker), dan Jalin Merapi dengan penanganan bencananya dan kasus-kasus itu memiliki cakupan nasional, maka tegas Dandhy, "Fenomena sosial media yang harus segera dipotret untuk dijadikan referensi masa depan."
***
*keriting* :D
Itulah tadi bagian dari diskusi, acara dilanjut dengan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang menuntaskan lakonnya. Sehabis itu ada acara lelang foto-foto Merapi.
Sehabis itu, saya dan Bengawaners, Mas A Nasir + tim Jalin Merapi dan tim Internet Sehat beserta mas Suryaden menikmati makan malam bersama di Gudeg... ehhmm lupa lagi... hehe.. Pokoknya enak, karena perut sudah keroncongan.. he he he
Selepas makan, saya pulang ke Solo dan mulai menghimpun semangat untuk menulis sebanyak ini.... :)
Follow twitter saya di @andreanisme. Walah... Masih sempat-sempatnya promosi.. #jabaterat :D
Thanks to: Internet Sehat, Bengawan, Blontankpoer, Hasssan, Mursid, Hendri, Dony Alfan, Suryaden, Sam Ardi, dan... SPG berbaju putih.. Ada gula ada semut, SPG berbaju putih itu bikin cenat-cenut...
[...] berlanjut di Pertunjukan dan Diskusi #3GMerapi… (function() {var s = document.createElement('SCRIPT'), s1 = [...]
ReplyDeletenulisnya sampe kurus #mdrcct #jabaterat
ReplyDeleteSaya hampir nimbrung di sana, kecuali karena sakit perut menahan saya, s*al, salah makan apa ya....
ReplyDeleteNamun syukur, acaranya tampak lancar & meriah.
Wah kalo jadi ke sana bisa sekalian kopdar, Mas.. :D
ReplyDeleteSampai melapar.. :D #siramair
ReplyDeleteLah, foto yang punya blog ini mana? Kurang narsis euy... :)
ReplyDeleteKemarin saya tidak bisa ikut mas karena harus mudik... ternyata seru banget acaranya..
ReplyDeleteSaya ada di dalam film-nya mas.. Sedikit tapi jelas.. :D
ReplyDeleteYups.. Acara memang sukses membuat orang kenyang dengan tontonan dan diskusinya..
ReplyDeletewuiih tulisane lengkap buanget.. keren Ndre..
ReplyDeletekelebihan blogmu, selain tulisanmu enak dibaca, font buat tulisannya juga nyaman..
:D
Makasih kak.. :D
ReplyDeleteSaya ndak jadi kemarin datang :(.
ReplyDeleteBtw, saran saja, apa ndak sebaiknya ditambah pengaya seperti comment reply notification agar bisa tahu jika komentarnya ada balasan atau tidak?
Ok, terima kasih sarannya.. Sudah saya follow-up.. :)
ReplyDelete