Saturday, March 19, 2011



Crossposting dari tulisan saya di blogdetik, Jum'at 18 Maret 2010

"Coba kamu cari jalan Totosari, Laweyan lewat Google Maps. Kalau ketemu, tolong kasih screenshoot berserta petunjuk jalannya (Jw. ancer-ancer) dan kirim lewat email", ujar paman saya yang tinggal di Jogja kepada saya yang tinggal di Solo. Kebetulan lokasi yang dicari memang tidak jauh dari rumah saya.

Tidak hanya sekali-dua kali paman saya menyuruh saya untuk memberi petunjuk jalan dengan bantuan internet dan menggunakan Google Maps yang digunakan untuk peta navigasi petunjuk jalan. Dari proses penyampaian informasi, baik menyuruh atau memberikan apa yang disuruhnya juga melalui internet, dari messenger untuk chatting dan email untuk menyampaikan peta serta petunjuk jalan.

linimassa11

Hal ini juga saya temui ketika melihat dokufilm @linimas(s)a yang terdapat banyak bagian yang menyoroti penggunaan internet di Indonesia. Bukan hanya paman saya yang berumur lebih dari 40 tahun dan menggunakan internet untuk mendapatkan informasi atau menemukan solusi untuk mengatasi masalahnya. Untuk belajar menggunakan internet secara maksimal mungkin sulit, namun untuk membuka diri dan ada sikap untuk "want to know" tentang penggunaan internet pasti berbeda. Minimal, dia tahu Google Maps dan menyuruh saya untuk menemukan lokasi yang di inginkan.

Ini juga yang dilakukan Blassius Haryadi (Harry van Jogja), tukang becak yang sudah tak lagi muda namun bisa menggunakan Facebook sebagai media untuk berpromosi kepada calon tunggangannya. Berarti, dia masih mau belajar dan mampu membagi waktu di tengah pekerjaan sebagai tukang becak dan membesarkan anak-anaknya. Jika kita melihat orang seumuran dengan pak Harry, mungkin memiliki alasan yang seragam, tidak sempat masih banyak sesuatu yang harus dilakukan (apalagi ibu-ibu rumah tangga :) )

Mengenai ibu-ibu yang tidak lagi mempunyai waktu untuk sekedar mengenali dunia internet, di dokufilm linimas(s)a ini juga terdapat nama Valensia Mieke Randa, yang menggunakan teknologi internet, dalam hal ini sosial media untuk sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Dia adalah inisiator Blood For Life (#BFL), suatu gerakan yang memberikan segala informasi tentang kebutuhan darah (donor). Informasi disebarkan lewat jejaring sosial, baik via Twitter atau broadcast message BBM. Mungkin hanya sekedar retweet atau BM namun, "...hal-hal kecil yang kita lakukan bisa berarti sebuah nyawa buat orang lain", kata Valensia.

Banyak hal yang bisa diinisiasi dari penggunaan internet. Termasuk dalam soal hukum dan politik, Koin Prita, Kasus Bibit-Chandra (Gerakan 1 juta Facebooker).

Juga dalam aksi penanganan bencana yang bisa mengakomodir relawan, bantuan, info terkini sampai penggalangan dana dan radio streaming dari post pantau merapi dan bisa didengarkan oleh orang banyak. Penggunaan internet untuk penanganan bencana seperti ini dilakukan oleh Jalin Merapi, yang saat Merapi meletus, akun twitternya @jalinmerapi terus-menerus menyampaikan informasi terkini di sana. Karena terapresiasi oleh kinerja Jalin Merapi dalam menggunakan sosial media, saya menulis tulisan ini beberapa hari setelah Merapi meletus, Letusan Merapi 2.0

Masih banyak hal-hal lain yang terdapat di film ini, terutama percakapan-percakapan cerdas tentang internet di Indonesia. Silakan lihat teaser videonya di http://kalamkata.org/2011/02/20/linimassa-program-film-dokumenter/

Banyak hal yang bisa dilakukan dengan internet, apalagi bangsa ini mempunyai sumber daya pemakai internet yang sangat tinggi. Jika masing-masing bisa mengoptimalkan secara baik. Alangkah dahsyatnya perubahan yang bisa dilakukan bangsa ini!

"Kita melihat bahwa kalau internet ini digunakan dengan benar. Dengan dioptimalkan se positif mungkin. Itu manfaatnya akan sangat luar biasa bahkan untuk melakukan perubahan sosial. Untuk melakukan gerakan-gerakan untuk arah yang lebih baik" -- Donny BU, produser dokufilm linimas(s)a dan Ketua ICT Watch.

Cerita berlanjut di Pertunjukan dan Diskusi #3GMerapi...

5 comments:

  1. Tapi kan selalu ada yang menggunakan Internet untuk kebalikannya, menyebar hoax, isu sara, dan beberapa hal yang mengesalkan :) - still, Internet is a double edge sword.

    ReplyDelete
  2. Saluut buat pak Harry van Yogyanya :D

    ReplyDelete
  3. [...] setelah menuliskan resensi dokufilm @linimas(s)a di @linimas(s)a: Tentang Penggunaan Internet Bangsa Ini, saya bersama teman-teman Komunitas Blogger Bengawan & Yayasan Talenta bertolak ke Jogjakarta, [...]

    ReplyDelete
  4. tolong carikan saya jalan dari laweyan ke daerah srabi notosuman?
    Hehehehhe...

    ReplyDelete
  5. Betul mas, kalo kita semua bisa memaksimalkan media internet, indonesia tambah cakep!

    ReplyDelete