Sunday, October 17, 2010

Oleh: Agus Siswoyo
Photobucket Secara naluri manusia cenderung suka membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lainnya. Suka atau tidak suka begitulah adanya. Lebih ekstrim lagi, aneka ragam pembeda tersebut bisa dijadikan patokan dalam klasifikasi status sosial. Misalnya didasarkan pada kekayaan, jabatan, pendidikan, tingkat kesalehan dalam beragama maupun sejumlah parameter lainnya.

Bagaimana dengan pergaulan di internet? Apakah mungkin hal ini berlaku, mengingat dunia maya adalah media virtual yang terkoneksi lewat internet dan kita tidak tahu jatidiri sosok di seberang sana?

Sebenarnya praktek kelas sosial dalam pergaulan internet adalah hasil modifikasi dari dunia maya. Boleh jadi orang nggak kenal Anda face by face. Orang tidak tahu kalau Anda memiliki tahi lalat di pantat, gigi gingsul, tompel di pipi, bisul di balik rambut lebat dan lain-lain. Termasuk status Anda jomblo menahun ataupun janda beranak tiga.

Tapi yang tidak dapat Anda lupakan adalah aktifitas Anda tetap bisa dipantau lewat sosial media yang Anda ikuti. Dari interaksi yang Anda lakukan dengan kawan-kawan lain di internet, secara perlahan akan terbentuk kesan dan apresiasi tersendiri terhadap posting, update status, tweet dan segala bentuk interaksi online lainnya.

Label yang muncul misalnya newbie dan master dalam blogging. Lalu dalam forum kaskus kita mengenal tingkatan newbie, kaskuser, kaskus holic, kaskus addict hingga made in kaskus. Dalam sejumlah sosial media lain pun berlaku pembagian seperti itu. Suka nggak suka, mau tidak mau, itulah praktek yang tengah terjadi.

Content, Not Context


Lalu, apa hubungannya dengan tulisan kali ini? Jujur saja, saya prihatin dengan gejala yang tengah terjadi saat ini. Orang mulai melihat gelar, label dan status sosial dalam menentukan apresiasi terhadap sebuah karya.

Posting seorang blogger senior seringkali mendapat applaus berlebihan di mata pembaca. Meskipun sebenarnya tulisan tersebut tidak bermuatan nilai informasi. Sebaliknya, tulisan yang dibuat seorang newbie melalui segenap tenaga jungkir balik mencari referensi terkait, seringkali terabaikan secara sia-sia.

Hal tersebut tidak terlepas dari budaya menjunjung tinggi context daripada content. Orang cuma lihat bungkusnya daripada isinya. Sama seperti anak kecil yang dikasih uang dua ribu rupiah lalu disuruh memilih mau beli telur ayam kampung atau snack macam Chicki dan Potato. Saya pastikan si anak akan memilih beli jajan daripada telur untuk kemudian di rebus di rumah.

Itulah gambaran sederhananya. Bahwa segala label yang membungkus individu pengguna internet adalah tidak lebih dari jebakan dalam penentuan persuasif pikiran pengguna lainnya. Meski begitu, bukan berarti kita tidak boleh berinteraksi dalam sosial media. Saya yakin di luar sana masih ada orang-orang yang memiliki kapasitas sebagai penilai yang obyektif dan bisa memisahkan mana content asli dan mana context artifisial.

Mari bijak menilai. Mana tebu mana teberau.

10 comments:

  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Agus Siswoyo, genter and Andrean Saputro, Andrean Saputro. Andrean Saputro said: Pengaruh Kelas Sosial Terhadap Apresiasi Tulisan | Just Another Blogger Boy http://t.co/jUdvxkE | Tulisan dari guest blogger @agussiswoyo [...]

    ReplyDelete
  2. Sebelumnya terima kasih atas tulisannya di blog saya.

    Menurut saya, dari sudut pandang di sosial media. Ketika beraksi di socmed, biasanya diri kita menjadi sangat spontan. Tanpa pikir, langsung broll. Karakternya bisa jadi sangat "narsis" karena ini memang medianya.
    Namun dalam blog bisa sangat berbeda, kita bisa jadi sangat anonim jika memaparkan pendapat lewat tulisan. Sudut si pembaca (bener2 pembaca) biasanya lebih mementingkan tulisan daripada nama besar jika tulisannya bener-bener pas.. Dari situ, ada pencitraan yang terbentuk..

    Narsis di socmed, landing argumen penguatan di blog. Web 2.0.

    Duh kok panjang amat ya?? hehe.

    ReplyDelete
  3. lho kok sepi??? kenapa ya rasanya ketika saya melakukan kopdar dengan komunitas setempat sepertinya saya kurang sreg? apa karena saya beda kelas sosialnya?? atau memang jarang bergaul sebelumnya di dunia maya

    ReplyDelete
  4. memang, fakta yang berkembang seperti itu. tak salah jika saykoji membuat lagu narsis yang memang sangat relevan dengan keadaan saat ini.

    yang tidak bisa kita lupakan adalah ada harga dibalik sebuah kata. orang menyebutnya sebagai personal branding. hal ini yang pada akhirnya membedakan satu individu dan lain.

    ReplyDelete
  5. hmm, kalau menurut saya, itu sih tergantung cara otak kita mengolah sebuah peristiwa mau dibikin positif atau negatif. pada awal saya bertemu kawan-kawan blogger pun demikian. namun lama-lama menjadi lebih rilekss karena adanya kemauan membuka sebagian hati untuk bergaul dengan orang-orang baru.

    ReplyDelete
  6. Luar biasa, asik bener bacanya.

    Content, not context. Ini mengingatkan saya pada pengalaman awal2 ngeblog, dimana saya segen banget tuk berkomentar di blog2 mapan, takut nyeplos, karena sy dah terlanjur membagi2 segmen master-nubi itu.

    Ya, setidaknya jangan malah membuat kita mundur teratur. Ikuti saja iramanya, toh internet is just a game *eh apaan?*

    ReplyDelete
  7. Yup, tak perlu berlebihan menilai tulisan siapa pun. Setinggi apa pun "jabatan" mereka yang emnulisnya, yang penting bagi kita adalah isi kandungan tulisan itu :)

    ReplyDelete
  8. Ternyata "hantu" AS gentayangan sampe sini juga ya :)

    ReplyDelete
  9. Belum basi kan artikel di atas untuk saya komentari? Soalnya baru nemu aja :)

    Mas Agus, makna konteks setahu saya adalah esensi atau hakikat. Sedangkan konten itu sendiri artinya kandungan. Jadi agak kurang tepat rasanya jika mempertentangkan keduanya. Karena pada dasarnya antara konten dan konteks itu sama :)

    Maksudnya begini, saya lebih cenderung menilai sebuah tulisan dari sisi konteks materinya ketimbang siapa penulisnya. Jadi sekalipun ditulis oleh blogger terkenal yang banyak disegani/diikuti, saya akan tetap mengkritik sepanjang saya menemukan sesuatu yang layak untuk dikritisi (dari materi tulisannya).

    Artinya, kita mengutamakan konteks tulisan ketimbang siapa penulisnya (ketika ingin mengkritisi). Nah, saya masih bingung mencari istilah penulis itu.

    ReplyDelete
  10. segala hal yang berhubungan dengan orang yang terkenal sebelumnya, biasanya memang akan ramai.
    apapun.
    dari artis maupun anggota dewan. hehe.

    ReplyDelete