Seharian saya duduk dan menatap laptop pada hari Selasa, 26 Oktober 2010. Entah mengapa hari itu timeline di Twitter tak bisa ditinggal walau sejenak. Kabar tentang gunung Merapi yang akan menepati janjinya terdengar sayup-sayup suara lewat televisi yang ada di samping ruang tempat saya bercumbu dengan laptop bernyawa TweetDeck.
Letusan kali ini bisa saya beri nama Letusan Merapi 2.0. Perkembangan Merapi terus dikicaukan oleh akun @jalinmerapi. Mulai dari pengamatan sampai admin yang ngetwit dilemparin kerikil oleh Merapi. Laporan dari berbagai pos pengamatan gunung Merapi yang disampaikan lewat Radio Lintas Merapi juga disampaikan disini.
[caption id="attachment_1461" align="aligncenter" width="452" caption="Merapi 3 hari sebelum meletus | Foto: AnjasWijanarko.net"]
[/caption]
Kecepatan informasi yang tersaji inilah yang membuat berbeda dengan letusan tahun 2006, yang saat itu saya belum punya account Twitter, Friendsterpun saya belum mengenal. Informasi letusan Merapi sebelum era social media hanya bisa saya nikmati via berita televisi. Dan reporter mungkin tidak bisa menyajikan informasi secepat teks yang terus menumpuk di timeline.
Tak hanya dalam segi sosial media. Stasiun televisi yang menyajikan fitur livestreaming di webnya juga turut memudahkan saya memantau aktivitas gunung Merapi. Tidak usah berpindah posisi, karena saya sudah pewe di depan laptop, tinggal geser tab dan informasi secara visual-pun sudah tersaji.
Perkembangan social media juga ampuh untuk menghimpun rasa simpati banyak orang. Untuk pengiriman bantuan, baik berbentuk uang, relawan, ataupun logistik bisa dihimpun dengan hanya 140 kata. Di sana juga bisa menginformasikan apa jenis bantuan yang sangat diperlukan dalam waktu itu (real time). Misalnya, masker penutup hidung (karena waktu itu hujan abu) yang kurang atau selimut yang tidak tersedia banyak untuk para pengungsi. Jadi, jika ada orang yang ingin mengirim bantuan bisa saja menyisipkan masker dan selimut sebelum dikirim ke lokasi pengungsian.
Di atas, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kecepatan informasi juga berdampak pada ketepatan reaksi.
Untuk penggalangan relawan juga demikian. Relawan yang akan berangkat bisa membuat pendaftaran secara online. Tentunya yang ingin mengkoordinir juga menyediakan form yang diletakan pada halaman di internet. Selain bisa mendata terlebih dahulu, koordinator relawan juga tak perlu pusing-pusing untuk memberitahukan apa-apa saja yang mungkin akan diperlukan sewaktu relawan akan membantu korban-korban Merapi. Cukup tuliskan saja pada halaman informasi pada form pendaftaran online.
Kemajuan internet dan web 2.0 nya sangat berdampak baik dalam penanganan bencana saat ini. Untuk perbandingan, saya sendiri blind dengan keadaan di Mentawai. Karena hanya menyimak berita lewat TV, kondisi yang paling update susah sekali di dapat. Mungkin di sana akses internet masih sulit, dan jika melihat posisi Mentawai yang memang terpisah dari pulau Sumatra bisa dijadikan sebabnya. Padahal, Tsunami di Mentawai menelan lebih dari 200 jiwa dan sangat besar jika dibandingkan dengan korban Merapi yang merenggut 30-an korban jiwa.
Yah, ternyata memang kemajuan teknologi internet ini banyak gunanya. Produk yang paling mempunyai dampak mungkin dapat saya berikan pada produk social media. Letusan 2.0 juga bisa menjadi project nyata dimana powerfull-nya teknologi ini.
Andrean Saputro, resolusi 1024 x 768 melaporkan. :D
(Foto: Anjas Wijanarko)
Letusan kali ini bisa saya beri nama Letusan Merapi 2.0. Perkembangan Merapi terus dikicaukan oleh akun @jalinmerapi. Mulai dari pengamatan sampai admin yang ngetwit dilemparin kerikil oleh Merapi. Laporan dari berbagai pos pengamatan gunung Merapi yang disampaikan lewat Radio Lintas Merapi juga disampaikan disini.
[caption id="attachment_1461" align="aligncenter" width="452" caption="Merapi 3 hari sebelum meletus | Foto: AnjasWijanarko.net"]
Kecepatan informasi yang tersaji inilah yang membuat berbeda dengan letusan tahun 2006, yang saat itu saya belum punya account Twitter, Friendsterpun saya belum mengenal. Informasi letusan Merapi sebelum era social media hanya bisa saya nikmati via berita televisi. Dan reporter mungkin tidak bisa menyajikan informasi secepat teks yang terus menumpuk di timeline.
Tak hanya dalam segi sosial media. Stasiun televisi yang menyajikan fitur livestreaming di webnya juga turut memudahkan saya memantau aktivitas gunung Merapi. Tidak usah berpindah posisi, karena saya sudah pewe di depan laptop, tinggal geser tab dan informasi secara visual-pun sudah tersaji.
Perkembangan social media juga ampuh untuk menghimpun rasa simpati banyak orang. Untuk pengiriman bantuan, baik berbentuk uang, relawan, ataupun logistik bisa dihimpun dengan hanya 140 kata. Di sana juga bisa menginformasikan apa jenis bantuan yang sangat diperlukan dalam waktu itu (real time). Misalnya, masker penutup hidung (karena waktu itu hujan abu) yang kurang atau selimut yang tidak tersedia banyak untuk para pengungsi. Jadi, jika ada orang yang ingin mengirim bantuan bisa saja menyisipkan masker dan selimut sebelum dikirim ke lokasi pengungsian.
Di atas, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kecepatan informasi juga berdampak pada ketepatan reaksi.
Untuk penggalangan relawan juga demikian. Relawan yang akan berangkat bisa membuat pendaftaran secara online. Tentunya yang ingin mengkoordinir juga menyediakan form yang diletakan pada halaman di internet. Selain bisa mendata terlebih dahulu, koordinator relawan juga tak perlu pusing-pusing untuk memberitahukan apa-apa saja yang mungkin akan diperlukan sewaktu relawan akan membantu korban-korban Merapi. Cukup tuliskan saja pada halaman informasi pada form pendaftaran online.
Kemajuan internet dan web 2.0 nya sangat berdampak baik dalam penanganan bencana saat ini. Untuk perbandingan, saya sendiri blind dengan keadaan di Mentawai. Karena hanya menyimak berita lewat TV, kondisi yang paling update susah sekali di dapat. Mungkin di sana akses internet masih sulit, dan jika melihat posisi Mentawai yang memang terpisah dari pulau Sumatra bisa dijadikan sebabnya. Padahal, Tsunami di Mentawai menelan lebih dari 200 jiwa dan sangat besar jika dibandingkan dengan korban Merapi yang merenggut 30-an korban jiwa.
Yah, ternyata memang kemajuan teknologi internet ini banyak gunanya. Produk yang paling mempunyai dampak mungkin dapat saya berikan pada produk social media. Letusan 2.0 juga bisa menjadi project nyata dimana powerfull-nya teknologi ini.
Andrean Saputro, resolusi 1024 x 768 melaporkan. :D
(Foto: Anjas Wijanarko)
Meski teknologi informasi telah banyak membantu manusia mengurangi korban bencana alam, namun tetap saja korban tidak bisa dihindari. Faktor sugesti, kepercayaan primordial dan 'kearifan lokal' masih menjadi momok yang tidak mudah diberantas.
ReplyDeleteTepat mas! Kearifan lokal yang kuat di desa, tercermin dari kuncen Merapi, mbah Marijan, mungkin tidak akan bisa digerus oleh teknologi.
ReplyDeleteTapi untuk relawan dan pencari informasi, teknologi ini sangat berarti. :D
[...] This post was mentioned on Twitter by Agus Siswoyo, genter. genter said: Letusan Merapi 2.0: Seharian saya duduk dan menatap laptop pada hari Selasa, 26 Oktober 2010. Entah mengapa hari i... http://bit.ly/bOsTpz [...]
ReplyDeleteyeah..sk sih stuju2 aja lowh mbah marijan pd banyak yg salut atas kesetiaannya pd merapi..tapi jauh di lubuk hati sih miris jg liat para relawan2 yg pd maninggal krn ikutan mo nolong mbah marijan..yg pd membujuk mbah marijan biar turun itu..bagaimanapun jg mreka kan punya keluarga masing2 jg..jd sedih liatnya..knp pemberitaan cm fokus ke mbah marijannya..:(
ReplyDeletemenjadi relawan juga pastinya sudah tau tentang segala konsejunsinya..
ReplyDeleteAda referensi bacaan seputar mbah Marijan. http://bit.ly/bewGPQ
Meskipun teknologi semakin canggihk, tapi masih aja ada ya yang percaya dengan hal-hal sugesti kepercayaan.
ReplyDeletesemoga semakin kedepan akan lebih maju dan lebih baik lagi ya.
Bali Villa
amin..
ReplyDeleteSebentar lagi mungkin jadi versi 3.0 :D.
ReplyDeleteAndai saja segala jenis media sosial tersebut benar-benar sudah diterapkan, kemungkinan jumlah korban bisa makin sedikit.
ReplyDeleteMerapi kelihatannya "cantik" padahal ya?!
ReplyDeleteTapi di balik kecantikan itu terdapat kekuatan dahsyat seperti amarah terpendam :)
memang kalo namanya teknologi udah g ada tandingannya (lebay) hehehe. salam
ReplyDeleteYah itulah beberapa golongan di Indonesia, tidak bisa menerima teknologi baru dan lebih memilih hidup dengan alam.
ReplyDeleteSemoga kedepannya,kehidupan bisa berjalan lebih baik...
ReplyDeleteBetul pak.. Minimal untuk langkah antisipasi..
ReplyDeleteIya pak, sekali "batuk" saja bisa menelan korban jiwa.. Ya inilah alam.. :D
ReplyDeleteAda mas. Tandingannya wedhus gembel..haha
ReplyDeletekearifan lokal masih ada dan berjalan di Indonesia, mas...
ReplyDeleteamin...
ReplyDelete[...] Menyambung postingan yang kemarin, Letusan Merapi 2.0 [...]
ReplyDeleteKicauan di twitter lebih rame, cepat dan -mungkin- akurat dibandingkan dengan laporan media konvensional. Mana tweeps yang bisa dipercaya dan beritanya di RT menjadikan berita televisi bulan-bulanan di twitter akibat lebay dalam pemberitaan.
ReplyDeletehaha.. Terdepan mengaburkan! :p
ReplyDeleteAda hikmah di balik letusan Merapi, coba bayangkan bila isi perutnya yang masih sedikit tdk keluar tapi ditimbun..ditimbun terus, bila suatu saat sdh tdk bs menampung dan meltus pasti jauh lebih dahsyat dan bs jadi lbh banyak korban...akibat letusan gunung juga membuat tanah menjadi subur. Tidaka ada yang sia-sia ciptaan Tuhan.
ReplyDeletesekarang emang jamannya 2.0 hohoho
ReplyDelete[...] Juga dalam aksi penanganan bencana yang bisa mengakomodir relawan, bantuan, info terkini sampai penggalangan dana dan radio streaming dari post pantau merapi dan bisa didengarkan oleh orang banyak. Penggunaan internet untuk penanganan bencana seperti ini dilakukan oleh Jalin Merapi, yang saat Merapi meletus, akun twitternya @jalinmerapi terus-menerus menyampaikan informasi terkini di sana. Karena terapresiasi oleh kinerja Jalin Merapi dalam menggunakan sosial media, saya menulis tulisan ini beberapa hari setelah Merapi meletus, Letusan Merapi 2.0 [...]
ReplyDelete