Tuesday, March 23, 2010

Giat-giatnya ngeblog lagi nambah pengalaman dan pemikiran baru saya tentang gaya bahasa dari masing-masing penulis blog yang saya kunjungi.

Menarik, ternyata perbedaan itu memang indah. Jika semua sama akan terlihat biasa saja.

Tidak perlu menyinggung gaya bahasa dari masing-masing blogger. Saya hanya akan share dari pikiran saya sendiri.

Saya seorang mahasiswa informatika yang bekerja juga di bidang Keuangan. Formal, kaku dan tanpa basa-basi. Ya itu memang situasi di kantor tempat saya bekerja ini.

Tentu saja ini mempengaruhi gaya bicara saya sehari-hari dengan para rekan di kantor. Dengan sapaan bapak dan ibu, istilah memanggil mas dan mbak sangat jarang ditemui. Itu kan karena saya paling muda! Bukan itu saja, masalah birokrasi kan bukan hal yang mudah disingkirkan boss..hehe. Di luar kantor biasa memanggil dengan nickname tapi kalau sudah di dalam ya harus nurut. Profesionalisme panggilan.

Dalam hal menulis juga saya temukan kesamaan, dimana lingkungan tempat kita banyak menghabiskan waktu disitulah gaya bahasa kita terbentuk.

Ketika saya menulis postingan, saya mengikuti gaya bahasa yang saya pakai seperti ketika saya berbicara dengan orang di kantor. Sangat sulit bagi saya untuk menulis dengan gaya penyampaian ketika saya masih di SMA. Dan kalau saya nulisnya dengan gaya bicara saya waktu SMA, malah tulisan saya seperti layaknya sedang ikutan kontes menulis Bahasa Jawa Ngoko dan Wak-wak'an. "Jawa-mu ngendi le??"

Begitu juga dengan hilangnya gurauan. Karena iklim beku yang ada di kantor tadi, maka sendau gurau yang terpikir dan terucap jadi berkurang. Ketika SMA dari pagi sampai siang kan isinya cuma bercanda aja tuh. Nah kalau sekarang?? Mau bercanda dari pagi sampai siang, apa ngga takut  sama SP?! :takut hehe

Satu setengah tahun berjalan kok saya merasa lebih enjoy kalau formal ya?? Ketimbang dulu masa SMA,  saya malah lebih merasa cozy kalau memakai gaya bahasa yang baru ini. Dan kalau saya trackback ke belakang, ternyata dulu tidak menemukan kesulitan ketika beralih ke bahasa yang lebih dewasa ini. Apakah ini memang merupakan proses pendewasaan?? Kalau menurut saya, iya.

Sering berandai-andai juga sih. Misalnya saya saat ini hanya sebagai mahasiswa informatika, pasti gaya bahasa saya mirip dengan dosen atau bahasa buku/tutorial-tutorial yang bersifat menggurui. Atau misalnya saya saat ini bekerja sebagai wartawan, mungkin tulisan saya terlihat sangat kritis, lugas, dan informatif.

Maka boleh ngga ya saya simpulkan kalau gaya bahasa yang dipakai para blogger pasti ada latar belakang tersendiri. Mungkin lingkungan tempat tinggal, latar belakang pekerjaan, bahasa forum/komunitas atau lainnya. Yah, hanya mereka yang tau apa nyaman buat mereka.. Dan inilah letak keindahan itu, kalau semua gaya bahasanya seperti saya, bisa cepet tua nanti pembacanya..hihihihi..

Mungkin fenomena gaya bahasa ALAY saja yang belum menyentuh kaum penulis blog.

Whatever, i enjoyed it so much.. Keep share and happy blogging.

4 comments:

  1. saya setuju bahwa lingkungan keseharian kita memang amat berperan terhadap kebiasaan berbahasa kita
    tapi ada yg menarik nih mas Andre, bahasa yg kita gunakan juga bisa membentuk atmosfer lingkungan
    dulu saat saya masih ngantor, suasana komunikasi dgn para staf sering saya kondisikan melalui pemilihan gaya bahasa yg saya gunakan : kapan saya ingin suasana serius, kapan saya ingin suasana santai dan akrab, dsb
    .-= suarakelana´s last blog ..Komentarmu Gairahku =-.

    ReplyDelete
  2. @suarakelana, Iya mas,, kita bisa menciptakan atmosfer suasana dengan bahasa yang kita gunakan. Kadang dari gaya bahasa yang kita gunakan bisa menunjang pula peforma kerja kita sendiri. Misalnya waktu ingin meminta pendapat, kalau menggunakan bahasa yang terlalu santai bisa memudarkan tujuan kita berbicara.. Malah dikira kita ngga sungguh2 dalam meminta pendapat..

    Bisa kaku bisa santai bahkan bercanda di sela-sela aktifitas. Gaya bahasa yang variatif juga bisa menjauhkan kita dengan kebosanan..

    Makasih mas sudah berkunjung.. :)

    ReplyDelete
  3. Tambahan dari saya, buku-buku yang menjadi bacaan favorit si penulis blog juga turut berpengaruh besar dalam membentuk karakter tulisannya. Sebagai contoh yaitu Mas Khery Sudeska (seorang blogger). Dia hobi baca buku-buku filsafat dan buku-buku dengan topik yang mungkin bagi sebagian orang agak berat. Dan semua itu lalu tercermin pada gaya tulisannya di blog.

    Hal lain yang juga turut mempengaruhi yaitu blog-blog panutan kita (yang sering kita kunjungin atau yang bikin kita kagum). Coba lihat gaya bahasa blogodolar dot kom. Sepertinya tidak jauh beda dengan gaya bahasa blogguebo :)

    Bagi sebagian orang mungkin dirasa agak kaku. Tapi faktanya banyak yang suka tuh dengan kedua blog tsb :gila:

    Jadi, jangan takut untuk menjadi penulis dengan karakter yang mungkin agak serius atau kaku.

    ReplyDelete
  4. @iskandaria, Betul mas. Buku bacaan bisa mempengaruhi. Input berpengaruh dengan output.

    Bagi saya formal itu fleksibel, bisa digunakan untuk seksi pembaca apapun. Sebenarnya hanya mau atau tidak mengkonsumsi yang berat.. Semua butuh pembiasaan.
    Kalau saya hanya mengikuti tren yang ringan, sama juga saya tidak menjadi diri sendiri... Dan nulis sambil jaim itu tidak nyaman..hehe.

    Mantab's mas tambahannya... :beer:

    ReplyDelete