Sunday, February 14, 2010

[caption id="" align="aligncenter" width="116" caption="The Largest Indonesian Community"][/caption]


Kalian semua pada tau Kaskus kan?? Itu lho forum di internet yang terkenal dengan panggilan "Agan" untuk para usernya. Gue gabung sama forum ini sejak Agustus 2009. Mulanya hanya untuk cari info tentang informatika dan request software doank.  Eh lama kelamaan malah kecanduan deh sama nih Forum, semua sub forum gue jelajahin dari mulai CCPB sampe di Lounge yang ternyata banyak sekali pengetahuan yang ada di sana. Gosip, trik, informasi tempat di seluruh dunia, penemuan-penemuan, sosok, foto-foto gokil akibat ulah sotosop + BB ;p, sampe pemikiran agan Kaskuser yang brilian juga ada. Komplit deh pokoknya. Gue langsung punya pikiran begini "Anak Kaskus itu Smart, Terbuka, dan Up to Date!!" Daripada kalian mainin Facebook mending elo mainin KasKus n Twitter. Untuk penjelasannya, elo pasti akan nyadar sendiri setelah elo sering maen-maen di Kaskus n Twitter. (Recommended!)

Loh kok gue malah ngepromosiin Kaskus ya..! :) . Di Kaskus elo akan nemuin yang namanya Hot Threads (HT). HT ini adalah postingan yang Best of The Best dan Unique yang dipilih Admin, Moderator Forum dan rate dari Kaskuser. Jadi ngga sembarangan pos yang bisa dijadiin HT. Hanya pos yang bermutu, up to date, dan punya informasi penting saja yang bisa dijadiin HT.

Ceritanya pada malam Imlek 2561 berbarengan juga dengan malem Valentine suit..suit.. (13 Februari 2010). Gue hanya duduk di depan Laptop dan Ngaskus (aktivitas bermain Kaskus) sambil cari-cari info d sana. Eh kepikiran tentang Imlek besok pagi (tanggal 14 Februari 2010). Di situ gue mulai berpikir besok dapat ang pao berapa, siapa aja yang mau dateng and informasi imlek apa yang bisa gue posting di KasKus?! Ngga lama kemudian dapet deh ide tentang Barongsai! Tapi gue ngga ambil karena udah banyak orang yang tau, apalagi Kaskuser yang tau banyak hal! Sambil lalu eh nemu video We Are the World untuk Haiti. Sambil liat video itu gue nemu kata kunci "Kepedulian dan Say No To Racism" Nah langsung aja gue sambungin ke Imlek dan kepedulian Gus Dur pada kaum keturunan Tiong Hoa. Lalu gue nyari kehidupan kaum keturunan dari masa Soekarno sampe masa sekarang. Sesudah itu gue nyari artikel tentang Gus Dur dan pemikirannya pada kaum keturunan. Langsung saja disimak tulisan gue yang jadi HT di tanggal 14 November 2010. Judulnya Catatan Singkat Imlek Di Indonesia & Gus Dur

Gan berhubung ini Imlek, hari ini ane buat kilas baliknya..


Ini cuma share aja lho gan and NO SARA



Berpuluh-puluh tahun warga keturunan Tionghoa di Indonesia tidak bisa merayakan tahun baru Imlek. Selama orde baru, kebebasan mereka memang dikekang oleh pemerintah. Namun saat Presiden Abdurrahman Wahid berkuasa, Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional.

Catatan berikut menggambarkan rentetan sejarah Imlek di Indonesia:

14 November 1740. Ribuan orang keturunan Tionghoa dibunuh di Batavia oleh Belanda. Tanpa ampun, tubuh mereka di lempar ke sungai di utara Jakarta sehingga menjadi merah darah. Itulah sungai yang sekarang dikenal dengan Kali Angke (Angke=Merah). Setelah itu, mereka tiarap dan bersikap apolitis hampir dua abad lamanya.

1955-1965. Orde lama di bawah Soekarno memberi ruang terhadap warga keturunan Tionghoa. Lewat poros Jakarta-Peking, nyaris Indonesia tiada sekat dengan negara tirai bambu tersebut. Suntikkan dana dan hibah dari Cina pun mengalir. Salah satunya bantuan ribuan mata cangkul hasil lobi DN Aidit. Pada era ini, juga tidak sedikit keturunan Tionghoa yang menjadi menteri.

1965-1997. Setelah runtuhnya rezim Orde Lama, ribuan orang keturunan Tionghoa kembali terlunta-lunta. Tidak sedikit yang dibunuh. Saat Soeharto berkuasa ini, keturunan Tionghoa hanya diberi ruang di sektor bisnis perdagangan. Tapi tetap bersikap apolitis. Meski populasinya sedikit, tetapi menguasai hampir seluruh sektor perekonomian.

1998. Jelang reformasi, ratusan perempuan keturunan ini diisukan diperkosa dan tidak sedikit yang jadi korban akibat kekerasan yang meluas di sejumlah kota. Pertokoan yang diidentikkan dengan etnis tersebut mengalami penjarahan. Belum jelas hingga kini siapa pelakunya. Semua masih penuh misteri.

2000. Era Presiden Abdurrahman Wahid, tahun baru penanggalan Cina di jadi iklan sebagai hari libur nasional. Simbol kecinaan pun bebas beredar, seperti tari barongsai dan upacara di Klenteng.

2008. Imlek masih bisa menghirup udara libur nasional. Meski hanya meriah di kalangan keturunan Tionghoa semata, gaung sketsa perubahan peradaban itu terus menggema.
Spoiler for Gusdur, Imlek dan Pluralisme:


Gus Dur, itulah panggilan nama lengkap mantan Presiden Indonesia keempat KH. Abdurrahman Wahid. Ketokohannya tidak hanya diakui oleh masyarakat Indonesia tetapi juga oleh dunia internasional.

Beberapa atribut bisa dilekatkan kepadanya. Mulai dari mantan presiden, mantan ketua Nahdhatul Ulama (NU), pendekar demokrasi, pembela minoritas dan bapak pluralisme. Kegigihannya membela nilai-nilai pluralisme dan dialog antar agama membuatnya pernah mendapatkan penghargaan Medals of Valor dari The Simon Wiesenthal Center di Amerika Serikat.

Kaum Tionghoa di Indonesia secara bebas dan meriah bisa merayakan tahun baru Imlek, secara otomatis orang ingat atas sosok Gus Dur sang pembela kaum minoritas ini.

Gus Dur adalah orang yang pertama mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Allahyarham Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga. Karena Inpres tersebut, selama masa Orde Baru, aktifitas kaum Tionghoa seolah-olah dibatasi, tidak hanya dalam merayakan pesta agama tetapi juga partisipasi politik kelompok ini ditekan selama pemerintahan Soeharto.

Tak heran kalau jarang sekali kaum Tionghoa yang bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) apalagi menjadi anggota parlemen, atau menduduki jabatan tinggi di pemerintahan seperti menjadi bupati, gubernur dan menteri di kabinet.

Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur.

Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Inisiatif Gus Dur mencabut inpres tersebut telah membuka jalan persamaan hak bagi warga Tionghoa untuk tidak ragu merayakan hari besarnya dan juga secara bebas terjun ke politik. Pasca reformasi, tercatat beberapa tokoh Tionghoa berkibar di ranah politik Indonesia. Sebut saja diantaranya Kwik Kian Gie yang menjadi Menteri pada Kabinet Gus Dur, begitu juga Alvin Lie yang menjadi anggota parlemen dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Mari Elka Pangestu yang sekarang menjadi Menteri pada pemerintahan Yudhoyono.

Begitu juga di tingkat lokal, banyak etnis Tionghoa yang bisa menjadi pejabat di daerah. Sebut saja Basuki Tjahaja Purnama yang menjadi bupati Bangka dan Christiandy Sanjaya menjabat sebagai wakil gubernur Kalimantan Barat.

Dahlan Iskan, pemimpin surat kabar Jawa Pos, yang mempopulerkan istilah Tionghoa menggantikan sebutan orang China di Indonesia, menyebutkan bahwa sebelum reformasi kaum Tionghoa di Indonesia terbagi kepada tiga kelompok yaitu totok, peranakan dan hollands spreken.

Totok merujuk kepada kaum Tionghoa yang orangtuanya lahir di Tiongkok sementara dia lahir di Indonesia. Peranakan menunjukkan bahwa beberapa keturunannya sudah lahir di Indonesia dan hollands spreken merujuk kepada kaum Tionghoa Indonesia yang mampu berbahasa Belanda, berpenampilan lebih modern dimanapun dia dilahirkan. P

embagian kategori ini dalam sejarah Indonesia menunjukkan adanya perbedaan derajat dan status ekonomi kaum Tionghoa saat itu. Kaum peranakan bekerja di bidang pertanian dan perkebunan; orang totok menjadi penjual jasa dan pedagang kelontong; sementara kelompok hollands spreken identik dengan kaum terpelajar dan bahkan sekolah ke luar negeri.

Ketiga kelompok ini secara tegas terpisahkan dan tidak bisa saling berhubungan satu sama lain dalam pergaulan sosial. Bahkan antara kaum totok, peranakan dan hollands spreken tidak bisa menikah lintas kelompok. Tapi itu cerita dahulu, terutama sebelum kran demokratisasi dan reformasi dibuka pasca runtuhnya regime Soeharto.

Sekarang peleburan dan persamaan hak baik sosial, ekonomi maupun politik telah meruntuhkan diskriminasi itu. Tidak hanya diantara sesama warga Tionghoa itu sendiri bahkan mereka sekarang menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia. Sekarang, tidak ada lagi halangan bagi kelompok totok untuk menikah dengan kelompok hollands spreken, bahkan adalah hal yang biasa kalau orang Tionghoa sekarang menikah dengan suku apapun di Indonesia seperti dengan suku Jawa, Sunda, Batak atau yang lainnya.

Tidak perlu lagi para anak Tionghoa mengganti namanya yang berbau Chinese dengan nama yang berbau Jawa dan Indonesia. Zaman Soeharto, nama Soe Hok Djien kalah populer dengan nama Indonesianya Prof. Arif Budiman, begitu juga Nio Hap Liang, pemain bulutangkis terkenal Indonesia, lebih dikenal dengan sebutan Rudi Hartono. Begitu juga kaum Tionghoa Indonesia sekarang tidak perlu lagi takut untuk menjadi anggota polis, tentara dan menteri atau pejabat negara lainnya.

Inilah tentunya berkah dari terbukanya kran demokratisasi di Indonesia dan jasa Gus Dur sebagai bapak pluralisme. Tentu saja usaha Gus Dur membela kaum minoritas di Indonesia seperti kaum Tionghoa perlu diapresiasi.

Bentuk penghargaan itu tentunya tidak cukup hanya berhenti pada pemberian gelar bapak pluralisme kepada Gus Dur. Yang lebih penting adalah pemerintahan setelah Gus Dur dituntut tidak hanya mempertahankan kebebasan dan persamaan hak yang telah diperjuangkan Gus Dur tetapi juga terus mengembangkan semangat saling menghargai dan menghormati sesama warga Indonesia yang memang unik dengan berbagai macam suku, agama dan adat istiadat.

Pemerintahan Yudhoyono kini harus terus berjuang menjadikan realitas pluralitas bangsa Indonesia ini sebagai modal dan kekayaan budaya bangsa bukan sebagai sumber konflik. Jangan lagi kita dengar di bumi Indonesia ada diskriminasi, saling mencurigai dan saling menyerang disebabkan karena masalah perbedaan etnis dan agama.

Konflik agama seperti yang terjadi di Ambon atau konflik etnis yang terjadi antara suku Dayak dan Madura pada zaman dahulu tidak boleh terulang dan perlu dijadikan pelajaran oleh semua komponen bangsa Indonesia.

Generasi sekarang harus semakin faham bahwa realitas masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural. Semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 yang menyatukan etnis-etnis di Indonesia kedalam satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air bernama Indonesia perlu terus dipegang oleh generasi sekarang. Bukankah para bapak bangsa (founding fathers) seperti Soekarno dan Hatta telah menjadikan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) sebagai semboyan berdirinya republik Indonesia. Semangat inilah yang semestinya terus diwariskan oleh tokoh-tokoh politik dan pemerintahan di Indonesia kepada generasi selanjutnya.

Dan Gus Dur, presiden keempat Indonesia itu sudah memberikan contoh. Ini karena Gus Dur faham betul dengan sejarah bangsa dan cita-cita kemerdekaan para pendiri bangsa ini. Gus Dur tidak hanya faham arti demokrasi tetapi juga terus berjuang menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi Gus Dur, dengan demokrasi, segala bentuk diskriminasi dan pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi dan harus diakhiri.


Gue ngga nyangka tulisan ini besoknya akan jadi HT di KasKus karena pada malam harinya pas gue nulis thread ini masih sepi pelanggan. Besok paginya pas gue lihat thread ini udah dibanjiri reply sampe 150-an. Terus gue balik ke Home lagi ternyata udah ada judul thread gue di kolom HOT THREADS! Langsung gue screenshoot and gue lingkari di bagian judulnya. :) hehe. (narsis dikit...)


ID gue di KasKus : 1024742

Kalo yang mau lihat Threads secara live lihat di : http://kask.us/3374334

Semoga yang baca threads ini bisa menjadi the next Gus Dur untuk memerangi Rasisme dan Diskriminasi di Indonesia.

#indonesiaunite

@andreansaputro on Twitter

2 comments:

  1. [...] kompatibelnya kok, berhubung saya juga Kaskuser dengan GRP (Good Reputation Point alias Cendol dari Hot Thread Bintang 5 di Kaskus, maka cukup memudahkan cara untuk promosiin link invitation saya. Tinggal buka lapak, [...]

    ReplyDelete
  2. sometimes wanita tergolong makhluk yang aneh. pengennya ada-ada aja Sulit dimengerti. tetapi perempuan tercipta lebih banyak bicara. kata-kata yang diucapkan seringnya lebih banyak dari pria. Berdasarkan survey di lapangannya memang begitu, dan wajib dipenuhi. agar tidak depresi... :d jadi tanggapilah dia…

    ReplyDelete